![]() |
| Digra Coffee di Jakarta Selatan bukan sekadar tempat ngopi. Temukan cerita menarik di balik coffee shop ini. (Ist/edt) |
Ruangarchan - Ada coffee shop yang membuat kita ingin memotret kopinya. Ada yang membuat kita ingin memotret diri sendiri. Tapi ada juga tempat yang setelah kita duduk beberapa menit, justru membuat kita lupa mengambil foto.
Digra Coffee punya potensi menjadi tempat yang terakhir.
Sebab di Jakarta, kopi sebenarnya sudah menjadi perkara yang agak serius. Terlalu banyak coffee shop, terlalu banyak biji kopi, terlalu banyak istilah single origin, aftertaste, body, acidity, dan terlalu banyak orang yang mendadak menjadi ahli kopi setelah membeli grinder.
Saya datang ke Digra Coffee dengan pertanyaan yang jauh lebih sederhana:
Apa yang membuat sebuah coffee shop layak didatangi kembali setelah gelas kopi terakhir kosong?
Jawabannya ternyata bukan cuma soal kopi.
Digra Coffee, Coffee Shop Jakarta Selatan yang Punya Cerita
Digra Coffee berada di kawasan Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan. Bagi pencinta kuliner Jakarta Selatan, lokasi ini menarik karena Digra bukan sekadar tempat menikmati kopi dan makanan.
Jejak digital Digra Coffee menunjukkan bahwa tempat ini sejak awal dikembangkan sebagai ruang bertemu dan menyalurkan ide kreatif.
Di sinilah karakter Digra Coffee mulai terasa berbeda.
Sebuah coffee shop bisa saja menjual kopi.
Tetapi tidak semua coffee shop menyediakan ruang bagi musik, komunitas, diskusi, kreativitas, dan perjumpaan berbagai macam manusia.
Dan justru di situlah Digra Coffee memiliki cerita.
Secangkir Kopi, Gula Aren, dan Godaan untuk Menambah Satu Gelas
Mari kita mulai dari bagian paling penting.
Kopi.
Karena secanggih apa pun konsep sebuah coffee shop, kita tetap datang untuk menikmati sesuatu dari dalam cangkir.
Menu Digra Coffee memiliki sejumlah pilihan kopi, mulai dari Americano, latte, cappuccino, mochaccino, hingga berbagai flavored latte. Tersedia pula pilihan seduhan seperti Vietnam drip, V60 dan kopi tubruk.
Tetapi ada satu nama yang cukup menarik untuk memulai perjalanan:
Es Kopi Susu Gula Aren Digra.
Kopi susu gula aren adalah minuman yang agak licik.
Pahit kopi tidak datang untuk berkelahi dengan manisnya gula aren. Susu menjadi penengah. Es membuat semuanya terasa lebih ringan.
Hasilnya adalah jenis minuman yang tidak perlu terlalu banyak teori.
Teguk.
Diam sebentar.
Teguk lagi.
Lalu tiba-tiba gelas kosong.
Dan muncul pikiran yang sangat manusiawi:
“Kayaknya satu lagi, deh.”
Dalam daftar menu yang terdokumentasi, Es Kopi Susu Gula Aren Digra berada di kisaran Rp26 ribu.
Untuk ukuran Jakarta Selatan, angka tersebut masih cukup bersahabat untuk sebuah ritual kecil bernama:
ngopi sambil ngobrol.
Jangan Datang ke Digra Coffee Hanya untuk Kopi
Ada satu kesalahan yang sering terjadi ketika membicarakan coffee shop.
Kita terlalu sibuk membicarakan kopinya.
Padahal setelah dua atau tiga teguk, manusia biasanya mulai mencari sesuatu untuk dimakan.
Di bagian ini, Digra Coffee cukup serius.
Pilihan makanannya mencakup pasta, ayam, nasi, burger, dimsum, snack, dessert hingga menu berat seperti sop iga.
Ada ayam cabai garam.
Ada ayam sambal matah.
Ada sapi lada hitam.
Ada chicken katsu BBQ.
Ada dori carbonara.
Dan ada satu nama yang cukup sederhana tetapi justru menarik perhatian:
Nasi Goreng Digra.
Nasi goreng tidak membutuhkan nama yang rumit.
Tidak perlu dipoles dengan istilah asing.
Tidak perlu dibuat seolah-olah sedang mengikuti konferensi gastronomi internasional.
Nasi goreng hanya punya satu pekerjaan:
membuat kita mengambil suapan berikutnya.
Dalam publikasi mengenai Digra Coffee, kopi gula aren dan Nasi Goreng Digra pernah disebut sebagai menu yang patut dicoba.
Dan bagi saya, makanan seperti ini justru menarik.
Karena makanan yang berkesan tidak selalu makanan yang paling rumit.
Kadang makanan yang paling kita ingat adalah makanan yang membuat tangan otomatis kembali mengambil sendok.
Digra Coffee Bukan Coffee Shop yang Diam
Setelah urusan kopi dan makanan selesai, ada hal lain yang membuat Digra Coffee Jakarta menarik.
Tempat ini bukan coffee shop yang hanya menyediakan kursi lalu menyerahkan sisanya kepada pengunjung.
Sejak awal, Digra dikenal sebagai ruang untuk kreativitas.
Bagian tengah tempat ini pernah dirancang seperti panggung untuk pertunjukan musik dan talkshow. Berbagai genre musik pernah mendapatkan ruang, mulai dari pop, punk, rock hingga orkes.
Digra Coffee juga pernah menjadi tempat pameran fotografi.
Artinya, sebuah meja di Digra tidak selalu hanya menjadi meja.
Kadang ia menjadi meja diskusi.
Kadang menjadi tempat bertemu komunitas.
Kadang menjadi ruang kerja.
Kadang menjadi tempat seseorang bertemu orang lain untuk pertama kalinya.
Dan kadang—ini yang paling menarik—menjadi tempat seseorang hanya duduk diam sambil mencoba memahami hidupnya sendiri.
Coffee Shop yang Menjadi Ruang Pertemuan
Semakin melihat perjalanan Digra Coffee, semakin sulit menyebutnya sekadar tempat nongkrong.
Pada 2023, Digra Coffee menjadi salah satu lokasi kegiatan Eneos Otorun yang mempertemukan komunitas roda dua dan roda empat.
Pada 2025, tempat ini digunakan dalam kegiatan yang mempertemukan pemuda, akademisi dan unsur pemerintahan.
Pada 2026, Digra kembali menjadi ruang berbagai kegiatan komunitas dan diskusi kebudayaan.
Dan pada 28 Agustus 2026, Digra Coffee menjadi lokasi Ruang Hati Jakarta Series #1 dengan tema “Bertahan di Tengah Himpitan: Cinta dan Ketahanan Ekonomi Urban”.
Menarik, bukan?
Di satu tempat yang sama, orang bisa datang membawa cerita yang sangat berbeda.
Ada yang membawa gitar.
Ada yang membawa buku.
Ada yang membawa helm.
Ada yang membawa laptop.
Ada yang membawa gagasan.
Dan ada pula yang datang hanya membawa dirinya sendiri.
Semuanya bisa duduk di tempat yang sama.
Memesan minuman yang berbeda.
Lalu berbicara.
Digra Coffee dan Konsep “Third Place”
Dalam kehidupan masyarakat urban, ada konsep yang menarik: third place.
Rumah adalah tempat pertama.
Tempat kerja adalah tempat kedua.
Lalu manusia membutuhkan tempat ketiga.
Tempat di luar rumah dan kantor, tempat orang bisa bertemu tanpa terlalu banyak formalitas.
Coffee shop sering mengambil fungsi tersebut.
Dan Digra Coffee tampaknya menemukan bentuknya melalui kopi, makanan, musik, komunitas dan berbagai kegiatan kreatif.
Itulah mengapa menyebut Digra Coffee hanya sebagai “coffee shop di Lebak Bulus” terasa terlalu sederhana.
Seperti menyebut konser hanya sebagai “sekumpulan orang mendengarkan musik”.
Secara teknis benar.
Tetapi kehilangan ceritanya.
Apa yang Bisa Dilakukan di Digra Coffee?
Kalau Anda sedang mencari tempat nongkrong di Jakarta Selatan, Digra Coffee bisa masuk dalam daftar.
Datang pagi?
Bisa untuk bekerja atau menikmati kopi.
Datang siang?
Bisa makan sambil menyelesaikan pekerjaan.
Datang sore?
Waktu yang bagus untuk ngobrol.
Datang malam?
Suasana komunitas, diskusi atau aktivitas kreatif bisa menjadi pengalaman yang berbeda.
Pilihan minuman juga cukup beragam sehingga teman yang tidak minum kopi tetap memiliki alternatif.
Dan kalau lapar?
Jangan khawatir.
Digra Coffee and Eatery memiliki pilihan makanan yang cukup luas untuk membuat sesi nongkrong tidak berakhir hanya karena perut mulai protes.
Berapa Harga di Digra Coffee?
Berdasarkan informasi menu yang terdokumentasi, kisaran harga Digra Coffee berada di sekitar Rp25 ribu–Rp50 ribu per orang, tergantung pilihan makanan dan minuman.
Untuk kawasan Jakarta Selatan, kisaran ini cukup masuk akal untuk agenda:
“Ngopi dulu, ngobrol kemudian.”
Atau:
“Makan dulu, baru membicarakan masa depan.”
Atau kalimat paling berbahaya:
“Saya cuma mau satu kopi.”
Kita semua tahu bagaimana biasanya kalimat itu berakhir.
Yang Membuat Digra Coffee Menarik Bukan Hanya Kopinya
Setelah melihat menu, konsep ruang dan berbagai aktivitas yang pernah berlangsung di sana, saya sampai pada satu kesimpulan:
Mungkin kopi bukan produk utama Digra Coffee.
Kopi adalah pintu masuk.
Makanan adalah teman perjalanan.
Musik adalah penghangat.
Komunitas adalah denyutnya.
Dan manusia adalah ceritanya.
Karena apa gunanya kopi yang sempurna jika diminum di tempat yang membuat kita ingin segera pulang?
Sebaliknya, kopi sederhana bisa terasa jauh lebih nikmat ketika diminum bersama orang yang tepat, di meja yang tepat, pada waktu yang tepat.
Rasa tidak selalu lahir dari lidah.
Kadang rasa lahir dari suasana.
Dari percakapan.
Dari tawa.
Dari kenangan.
Bahkan dari sebuah obrolan tidak sengaja dengan orang yang sebelumnya sama sekali tidak kita kenal.
Jadi, Apakah Digra Coffee Layak Didatangi?
Kalau pertanyaannya:
“Apakah Digra Coffee adalah tempat untuk minum kopi?”
Tentu.
Tetapi itu baru permukaannya.
Kalau pertanyaannya:
“Apakah Digra Coffee cocok untuk makan?”
Jawabannya juga iya.
Tetapi masih belum selesai.
Pertanyaan yang lebih menarik adalah:
“Apakah Digra Coffee punya alasan untuk membuat kita kembali?”
Di sinilah jawabannya menjadi lebih menarik.
Karena Anda bisa datang ke Digra Coffee Jakarta untuk bekerja.
Bisa datang untuk makan.
Bisa datang untuk menikmati kopi.
Bisa datang bertemu teman.
Bisa datang mengikuti kegiatan komunitas.
Bisa datang mendengarkan musik.
Atau bisa datang sendirian.
Dan Anda tidak pernah benar-benar tahu cerita apa yang akan muncul setelah Anda duduk.
Pada Akhirnya, Kita Tidak Hanya Mencari Kopi
Jakarta membuat manusia terbiasa terburu-buru.
Bangun.
Bekerja.
Macet.
Meeting.
Deadline.
Pulang.
Besok diulang lagi.
Mungkin karena itulah coffee shop menjadi semakin penting dalam kehidupan kota.
Bukan karena manusia membutuhkan lebih banyak kopi.
Tetapi karena manusia membutuhkan lebih banyak ruang untuk menjadi manusia.
Dan mungkin itulah alasan Digra Coffee layak mendapatkan perhatian.
Ia tidak berhenti pada cangkir.
Ia bergerak menuju percakapan.
Dari percakapan menuju pertemuan.
Dari pertemuan menuju komunitas.
Dan dari komunitas, siapa tahu, lahir sebuah gagasan yang lebih besar.
Jadi, lain kali Anda sedang mencari coffee shop Jakarta Selatan, jangan hanya bertanya:
“Kopinya enak nggak?”
Coba tanyakan:
“Cerita apa yang mungkin saya bawa pulang dari tempat ini?”
Karena boleh jadi, yang paling berkesan dari sebuah coffee shop bukan kopi yang kita minum.
Melainkan orang yang kita temui.
Percakapan yang kita dengar.
Tawa yang muncul tiba-tiba.
Atau gagasan yang lahir ketika es di dalam gelas mulai mencair.
Digra Coffee bukan sekadar tempat untuk ngopi.
Digra Coffee adalah tempat di mana secangkir kopi bisa menjadi awal sebuah cerita. (acs)

