Dari Secangkir Kopi, Muncul Pertanyaan Besar: Indonesia Mau Dibawa ke Mana?

Ruang Archan
By -
0

FAPII dan Gerakan Spiritual Kebangsaan di Ruang Hati Jakarta, Digra Coffee (dok/digra coffee)


Ruangarchan — Jumat malam biasanya menjadi waktu untuk berhenti sejenak.

Setelah seharian bekerja, orang mencari tempat untuk minum kopi, berbincang, atau sekadar mengistirahatkan kepala dari hiruk-pikuk Jakarta.

Namun, Jumat, 28 Agustus 2026, percakapan di Digra Coffee, kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, justru bergerak ke arah yang lebih jauh.

Dari persoalan cinta dan ketahanan ekonomi masyarakat urban, pembicaraan berkembang menjadi pertanyaan tentang kebudayaan, spiritualitas, demokrasi, hingga masa depan Indonesia.

Di ruang itulah Forum Alumni Pelajar Islam Indonesia (FAPII) menggelar rangkaian kegiatan yang diisi dengan Jumatan, pengukuhan dan pelantikan Pengurus FAPII Sumatera Selatan, serta pengukuhan Deklarator FAPII Jawa Barat.

Sekitar 40 peserta dari unsur FAPII, kader Pelajar Islam Indonesia (PII), dan undangan hadir.

Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Ketua Umum FAPII, Sekjen FAPII Iradat Ismail, Fami Fachrudin, Jamaluddin Malik, dan Didi Rosidi.

Tetapi inti pertemuan malam itu bukan sekadar pengukuhan pengurus.

Ada pertanyaan yang jauh lebih besar: apa yang sebenarnya dibutuhkan Indonesia agar tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga maju?


Ketika Ngopi Berubah Menjadi Percakapan tentang Indonesia

Rangkaian acara diawali Ruang Hati Jakarta – Series #1 dengan tema “Bertahan di Tengah Himpitan: Cinta dan Ketahanan Ekonomi Urban.”

Tema tersebut berangkat dari realitas yang sangat dekat dengan masyarakat perkotaan.

Bagaimana mempertahankan kehidupan ketika biaya hidup meningkat? Bagaimana menjaga hubungan ketika tekanan ekonomi ikut masuk ke dalam rumah? Dan bagaimana seseorang tetap memiliki harapan ketika masa depan terasa semakin sulit diprediksi?

Dari persoalan sehari-hari itulah percakapan kemudian bergerak ke persoalan yang lebih besar: manusia, masyarakat, kebudayaan, dan bangsa.

Sekjen FAPII Iradat Ismail mengatakan Program Jumpa Masyarakat Akhir Bulan diharapkan menjadi ruang konsolidasi gagasan mengenai kebudayaan dan kebangsaan.

“Harapan dari Program Jumpa Masyarakat Akhir Bulan ini akan menjadi ajang konsolidasi gagasan terkait isu kebudayaan dan kebangsaan,” kata Iradat.

Ia menyebutnya sebagai bagian dari upaya membangun gerakan spiritual kebangsaan.

“Karena FAPII sendiri juga bagian dari gerakan masyarakat sipil yang mendorong isu keragaman, toleransi, serta isu demokrasi,” ujarnya.

Menurut Iradat, gagasan tersebut tidak hanya akan berhenti di Jakarta.

“Ini akan menjadi gerakan kultural FAPII dan akan dilaksanakan juga di jaringan FAPII yang tersebar di seluruh Indonesia,” katanya.

Arah tersebut, lanjut Iradat, sejalan dengan motto FAPII:

“Melanjutkan Mata Rantai Perjuangan Ummat dan Rakyat.”


Indonesia Jangan Hanya Dijaga, tetapi Dimajukan

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono kemudian membawa percakapan ke pertanyaan yang lebih mendasar.

Menurutnya, organisasi masyarakat tidak cukup hanya berbicara tentang menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ormas juga harus mampu memberikan kontribusi terhadap kemajuan bangsa.

“Saya ingin mengatakan bahwa kita harus cukup kritis, bahwa selama ini ormas-ormas yang ada di Indonesia hanya bisa menjaga NKRI, tapi belum bisa memajukannya,” kata Agus Jabo.

Ia mempertanyakan mengapa Indonesia belum mampu mencapai tingkat kemajuan seperti negara-negara besar lainnya.

“Tapi kenapa sampai sekarang Indonesia tidak maju-maju? Jangan-jangan kita tidak mengerti siapa sesungguhnya bangsa Indonesia ini,” ujarnya.

Bagi Agus, persoalannya mungkin bukan sekadar sistem.

Indonesia, menurutnya, telah mencoba berbagai pendekatan politik dan pembangunan.

Yang justru perlu dipertanyakan adalah apakah bangsa ini benar-benar memahami dirinya sendiri.

“Kita selalu mau copy-paste konsep-konsep yang berasal dari Timur Tengah, konsep-konsep yang berasal dari Amerika, konsep-konsep yang berasal dari Eropa. Tetapi kita tidak pernah mengerti jati diri bangsa Indonesia sebenarnya seperti apa.”

Pernyataan tersebut membawa diskusi dari persoalan pembangunan menuju pertanyaan tentang identitas bangsa.

Agus juga mengingatkan agar pencarian kesejahteraan material tidak membuat dimensi spiritual ditinggalkan.

“Cari duit iya, tapi hablum minallah juga harus tetap kuat,” katanya.

Menurutnya, kebanggaan sebagai bagian dari PII juga harus diwujudkan melalui tindakan nyata.

“Dan kebanggaan kita harus kita implementasikan dalam hal-hal yang konkret,” ujarnya.


Mengapa FAPII Membawa Isu Kebudayaan dan Kebangsaan?

Untuk memahami gagasan FAPII hari ini, perjalanan organisasi tersebut tidak bisa dilepaskan dari sejarah PII.

Pelajar Islam Indonesia berdiri pada 4 Mei 1947 di Yogyakarta dengan perhatian kuat terhadap pendidikan dan kebudayaan. Dalam profil resminya, PII menempatkan pendidikan dan kebudayaan sebagai bagian penting dari tujuan gerakannya.

Sementara itu, FAPII dideklarasikan di Bandung pada November 2019 sebagai wadah alumni PII.

Sejak awal, FAPII membawa perhatian pada pendidikan, kebudayaan, penguatan kapasitas alumni, kesejahteraan masyarakat, serta gagasan tentang masyarakat yang terbuka dan toleran. FAPII juga muncul di tengah perdebatan mengenai politik identitas dan kehidupan kebangsaan.

Dengan latar tersebut, gagasan mengenai gerakan spiritual kebangsaan bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba.

Ada upaya untuk membawa nilai dan pengalaman gerakan PII ke dalam persoalan masyarakat yang terus berubah.

Tantangannya tentu berbeda.

Generasi hari ini menghadapi tekanan ekonomi urban, perubahan teknologi, polarisasi sosial, persoalan demokrasi, hingga perubahan kebudayaan yang berlangsung sangat cepat.


Dari Wacana Harus Menjadi Aksi

Ketua Dewan Pendiri FAPII Jamaluddin Malik menyoroti persoalan bangsa dari sisi lain.

Ia melihat persoalan elite sebagai salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

“Sebetulnya bagi saya tidak ada kolonialisme yang membuat carut-marut keadaan bangsa sampai hari ini. Ya, elit itu sendiri,” katanya.

Menurut Jamaluddin, diperlukan sebuah gerakan yang mampu menghubungkan gagasan dengan tindakan.

“Bagaimana kita lahir dari sebuah kerangka yang dari wacana sampai ke aksi,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya memahami kembali sejarah dan kebudayaan.

“Kita harus meluruskan,” katanya.

Bagi Jamaluddin, sejarah bangsa juga tidak dapat dilepaskan dari dimensi spiritual.

“Sejarah dimulai dari gerakan rohani,” ujarnya.


Dari Sumatera Selatan hingga Jawa Barat

Pengukuhan Pengurus FAPII Sumatera Selatan dan Deklarator FAPII Jawa Barat menjadi bagian dari konsolidasi jaringan FAPII.

Hadir Dr. Rizal Syamsul, advokat senior asal Palembang yang juga Ketua FAPII Sumatera Selatan, bersama Sekretaris Umum FAPII Sumsel Eko Kusnadi.

Dari Jawa Barat hadir Deklarator FAPII Jawa Barat Aneu yang juga anggota Komisioner KPU Daerah Jawa Barat.

Perluasan jaringan ini menunjukkan bahwa agenda FAPII tidak ingin berhenti sebagai percakapan di Jakarta.

Pada Mei 2026, FAPII Sumatera Selatan juga telah dideklarasikan di Palembang dengan kehadiran pengurus pusat, termasuk Iradat Ismail.

Artinya, konsolidasi organisasi mulai bergerak dari pusat menuju jaringan daerah.


Tantangan Sesungguhnya Justru Dimulai Setelah Acara

Pengukuhan pengurus selesai.

Percakapan malam itu pun pada akhirnya harus berhenti.

Tetapi bagi FAPII, pekerjaan sebenarnya mungkin justru baru dimulai.

Sebab membangun gerakan spiritual kebangsaan jauh lebih sulit daripada menciptakan sebuah slogan.

Masyarakat tidak hanya membutuhkan wacana tentang kebangsaan.

Mereka membutuhkan pendidikan yang lebih baik, ekonomi yang lebih kuat, demokrasi yang sehat, toleransi yang nyata, serta kebudayaan yang mampu bertahan tanpa kehilangan relevansinya.

Karena itu, pertanyaan penting setelah konsolidasi FAPII bukan sekadar berapa banyak jaringan yang berhasil dibangun.

Melainkan:

Apa yang akan dilakukan FAPII setelah semua orang pulang?

Apakah gagasan tersebut akan diwujudkan melalui pendidikan?

Pemberdayaan ekonomi?

Kebudayaan?

Penguatan demokrasi dan toleransi?

Atau melalui program nyata yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat?

Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah FAPII hanya menjadi ruang pertemuan alumni PII atau berkembang menjadi salah satu kekuatan masyarakat sipil yang benar-benar memiliki dampak.

Mungkin itu pula yang membuat percakapan di Digra Coffee malam itu terasa berbeda.

Semuanya bermula dari kehidupan sehari-hari.

Tentang cinta.

Tentang ekonomi.

Tentang bagaimana bertahan hidup di kota.

Lalu percakapan bergerak semakin jauh—hingga sampai pada pertanyaan tentang siapa sebenarnya bangsa Indonesia.

Dan pada akhirnya, satu pertanyaan masih tertinggal:

Jika Indonesia ingin maju tanpa kehilangan jati dirinya, perjuangan seperti apa yang harus dimulai hari ini?

Bagi FAPII, jawabannya ingin dirintis melalui satu mata rantai yang mereka sebut sebagai perjuangan umat dan rakyat. (acs)

Tags:

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default