![]() |
| Generasi Sandwich, Ketika Menjadi Anak dan Orang Tua Terjadi Bersamaan. (Ilustrasi/ruangarchan) |
Ruangarchan - Ada fase dalam hidup ketika seseorang merasa tidak lagi punya ruang untuk menjadi anak.
Orang tua mulai membutuhkan bantuan.
Di saat yang sama, pasangan membutuhkan perhatian.
Anak membutuhkan biaya sekolah.
Rumah membutuhkan pengeluaran.
Pekerjaan menuntut performa.
Dan dirinya sendiri tetap harus bertahan.
Di tengah semua itu, ada satu kalimat yang sering muncul dalam kepala:
"Kalau bukan saya, siapa lagi?"
Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana.
Tetapi bagi banyak orang dewasa, di situlah beratnya menjadi generasi sandwich.
Mereka berada di antara dua generasi yang sama-sama membutuhkan dukungan.
Di satu sisi ada orang tua.
Di sisi lain ada pasangan dan anak.
Sementara di tengah-tengahnya ada dirinya sendiri yang juga membutuhkan waktu, uang, dan tenaga.
Apa sebenarnya generasi sandwich?
Istilah sandwich generation biasanya digunakan untuk menggambarkan orang dewasa yang memiliki tanggung jawab terhadap orang tua sekaligus anak atau keluarga yang menjadi tanggungannya.
Dalam konteks Indonesia, situasinya bisa lebih kompleks.
Bantuan kepada orang tua bukan hanya soal uang.
Ada yang membayar kebutuhan bulanan.
Membantu biaya pengobatan.
Membayar tagihan.
Membiayai adik.
Mengurus kebutuhan rumah orang tua.
Atau sekadar menjadi orang yang selalu dicari ketika keluarga membutuhkan sesuatu.
Di sisi lain, orang tersebut juga memiliki kehidupan sendiri.
Ada cicilan.
Ada kebutuhan pasangan.
Ada biaya anak.
Ada kebutuhan rumah tangga.
Dan ada masa depan yang seharusnya juga dipersiapkan.
Akibatnya, penghasilan yang terlihat cukup dari luar bisa sebenarnya sudah terbagi ke banyak arah.
Menjadi anak belum selesai, tetapi sudah harus menjadi orang tua
Mungkin ini bagian yang paling melelahkan.
Secara usia, kita sudah dewasa.
Tetapi ketika berhadapan dengan orang tua, kita tetap merasa sebagai anak.
Masih ingin dimengerti.
Masih ingin sesekali dibantu.
Masih ingin memiliki tempat untuk pulang.
Namun kehidupan memaksa peran berubah.
Sekarang justru kita yang harus membantu.
Kita yang ditanya ketika ada masalah.
Kita yang diminta mencari solusi.
Kita yang harus memikirkan biaya.
Pada saat bersamaan, ketika pulang ke rumah sendiri, kita kembali menjadi pasangan atau orang tua.
Anak bertanya.
Pasangan membutuhkan perhatian.
Pekerjaan menunggu.
Tagihan harus dibayar.
Tidak ada tombol untuk berhenti menjadi salah satu peran tersebut.
Bebannya bukan hanya finansial
Ketika mendengar istilah generasi sandwich, kita sering langsung membayangkan uang.
Padahal bebannya jauh lebih luas.
Ada beban emosional.
Merasa bersalah kalau tidak bisa membantu orang tua.
Merasa bersalah kalau terlalu banyak memberikan uang kepada orang tua sehingga kebutuhan anak berkurang.
Merasa bersalah ketika ingin menikmati hasil kerja sendiri.
Bahkan sekadar membeli sesuatu untuk diri sendiri bisa terasa seperti tindakan egois.
Kemudian muncul pertanyaan:
"Kalau uang ini saya pakai untuk diri sendiri, apakah seharusnya diberikan kepada keluarga?"
Lama-lama, seseorang bisa merasa bahwa dirinya selalu berada di posisi terakhir.
Semua orang mendapatkan bagian.
Dirinya sendiri mendapatkan sisanya.
Ada tekanan untuk menjadi "anak yang baik"
Budaya menghormati dan membantu orang tua merupakan nilai yang kuat dalam banyak keluarga Indonesia.
Itu bukan sesuatu yang buruk.
Justru hubungan antargenerasi dapat menjadi sumber kekuatan.
Masalah muncul ketika kewajiban tersebut tidak memiliki batas yang jelas.
Anak yang sudah dewasa bisa merasa bahwa dirinya harus menyelesaikan semua masalah keluarga.
Kalau tidak membantu, merasa durhaka.
Kalau menolak, merasa bersalah.
Kalau mengatakan tidak mampu, takut dianggap tidak peduli.
Akhirnya seseorang memaksakan diri.
Mengambil utang.
Mengorbankan tabungan.
Menunda kebutuhan sendiri.
Bahkan bekerja lebih keras dari kemampuan tubuh dan pikirannya.
Bukan karena ingin terlihat hebat.
Tetapi karena merasa tidak punya pilihan.
Penghasilan naik, tetapi tanggungan juga naik
Ini salah satu paradoks yang sering terjadi.
Ketika karier berkembang dan pendapatan meningkat, kebutuhan keluarga juga bisa ikut bertambah.
Orang tua semakin tua.
Anak semakin besar.
Biaya pendidikan meningkat.
Kebutuhan kesehatan bertambah.
Rumah membutuhkan perawatan.
Akibatnya, kenaikan pendapatan tidak selalu terasa sebagai kenaikan kesejahteraan.
Gaji naik.
Tetapi pengeluaran juga naik.
Dari luar terlihat semakin mapan.
Dari dalam justru merasa semakin banyak yang harus dipikirkan.
Karena itu, angka pendapatan saja tidak cukup untuk memahami kondisi finansial seseorang.
Yang perlu dilihat adalah berapa banyak orang dan kebutuhan yang bergantung pada pendapatan tersebut.
Masa depan sendiri sering menjadi korban
Ketika harus memilih antara kebutuhan hari ini dan masa depan, kebutuhan hari ini biasanya menang.
Biaya sekolah anak lebih mendesak daripada dana pensiun.
Obat orang tua lebih mendesak daripada investasi.
Cicilan rumah lebih mendesak daripada dana darurat.
Akhirnya, seseorang terus menyelesaikan masalah hari ini tanpa pernah memiliki kesempatan membangun keamanan untuk dirinya sendiri.
Ini menciptakan siklus yang berbahaya.
Orang tua dibantu.
Anak dibesarkan.
Tetapi tabungan sendiri tidak berkembang.
Dana pensiun tidak disiapkan.
Ketika usia semakin tua, kondisi yang sama bisa kembali terjadi.
Kita menjadi orang tua yang membutuhkan bantuan anak.
Dan siklus generasi sandwich berpotensi berulang.
Tidak semua bantuan harus berbentuk uang
Ini penting.
Membantu keluarga bukan berarti kita harus selalu menjadi sumber uang utama.
Bantuan bisa berupa waktu.
Mengurus administrasi.
Mencarikan informasi.
Mendampingi orang tua.
Mengajarkan teknologi.
Mengatur kebutuhan kesehatan.
Membantu anggota keluarga mencari pekerjaan.
Mendorong saudara lain ikut bertanggung jawab.
Dengan begitu, beban tidak selalu berhenti pada satu orang.
Karena salah satu masalah terbesar generasi sandwich adalah ketika seluruh tanggung jawab keluarga secara perlahan dianggap sebagai tanggung jawab anak yang dianggap paling mampu.
Belajar mengatakan "saya belum mampu"
Kalimat ini mungkin terasa sulit bagi banyak orang.
Apalagi kepada orang tua.
Tetapi kemampuan finansial memiliki batas.
Tidak semua permintaan harus dipenuhi.
Tidak semua masalah keluarga harus diselesaikan sendiri.
Dan mengatakan "saya belum mampu" tidak otomatis berarti tidak sayang.
Justru kejujuran tersebut bisa mencegah keputusan yang lebih buruk.
Daripada memaksakan diri mengambil utang baru untuk membantu keluarga, lebih baik menjelaskan kemampuan secara terbuka.
Daripada terus memberikan seluruh penghasilan hingga tidak memiliki dana darurat, lebih baik menetapkan batas yang sehat.
Membantu keluarga seharusnya tidak berarti menghancurkan kehidupan sendiri.
Jangan lupa bahwa diri sendiri juga anggota keluarga
Ini mungkin terdengar sederhana.
Tetapi sering dilupakan.
Ketika menghitung kebutuhan keluarga, kita memasukkan orang tua.
Pasangan.
Anak.
Saudara.
Tetapi lupa memasukkan diri sendiri.
Padahal kita juga membutuhkan:
Tabungan.
Istirahat.
Kesehatan.
Waktu bersama pasangan.
Pengembangan diri.
Dana darurat.
Persiapan masa depan.
Menjaga kebutuhan diri bukan tindakan egois.
Kalau seseorang yang menjadi penopang keluarga jatuh secara finansial atau fisik, dampaknya justru bisa dirasakan semua orang.
Karena itu, merawat diri juga merupakan bagian dari tanggung jawab terhadap keluarga.
Membicarakan uang dengan keluarga bukan hal yang tabu
Banyak keluarga Indonesia tidak terbiasa membicarakan kondisi finansial secara terbuka.
Pendapatan dianggap urusan pribadi.
Utang disembunyikan.
Kebutuhan dibicarakan ketika sudah mendesak.
Padahal komunikasi sejak awal bisa mencegah banyak masalah.
Berapa kemampuan yang bisa diberikan setiap bulan?
Kebutuhan mana yang benar-benar prioritas?
Siapa yang bisa membantu?
Apa yang bisa dikurangi?
Apa yang harus dipersiapkan untuk beberapa tahun ke depan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang tidak selalu nyaman.
Tetapi lebih baik membicarakan kondisi keuangan ketika masih terkendali daripada ketika sudah tidak ada pilihan.
Generasi sandwich tidak harus menjalani semuanya sendirian
Menjadi generasi sandwich bukan tanda bahwa seseorang gagal mengatur hidup.
Sering kali kondisi tersebut terbentuk dari berbagai keadaan yang terjadi bersamaan.
Orang tua menua.
Anak membutuhkan biaya.
Harga hidup meningkat.
Pendapatan memiliki batas.
Dan budaya keluarga membuat kita merasa harus selalu hadir ketika dibutuhkan.
Karena itu, yang diperlukan bukan sekadar nasihat:
"Harus pintar mengatur uang."
Yang diperlukan adalah pembagian tanggung jawab, komunikasi keluarga, perencanaan keuangan, dan keberanian menetapkan batas.
Sebab menjadi anak yang baik tidak berarti harus mengorbankan seluruh masa depan.
Menjadi orang tua yang baik juga tidak berarti harus memberikan semua yang dimiliki sampai diri sendiri tidak punya apa-apa.
Pada akhirnya, siapa yang menjaga generasi sandwich?
Pertanyaan ini jarang ditanyakan.
Kita sering bertanya siapa yang harus mereka bantu.
Orang tua?
Anak?
Pasangan?
Saudara?
Tetapi jarang bertanya:
"Siapa yang membantu mereka?"
Padahal orang yang berada di tengah juga manusia.
Mereka bisa lelah.
Bisa takut.
Bisa bingung.
Bisa ingin berhenti sejenak.
Dan mereka juga berhak memiliki masa depan.
Mungkin menjadi generasi sandwich memang tidak selalu bisa dihindari.
Tetapi bebannya bisa dibagi.
Tanggung jawab bisa dibicarakan.
Prioritas bisa ditentukan.
Batas bisa dibuat.
Dan bantuan tidak harus selalu datang dari satu orang.
Karena pada akhirnya, keluarga seharusnya bukan tempat di mana satu orang terus-menerus berkorban untuk semua orang.
Keluarga seharusnya menjadi tempat di mana orang-orang saling menopang—termasuk orang yang selama ini paling sering menopang yang lain. (acs)

