Quarter Life Crisis, Mengapa Usia 20–30 Tahun Terasa Begitu Berat?

Ruang Archan
By -
0

Quarter Life Crisis, Mengapa Usia 20–30 Tahun Terasa Begitu Berat. (Ilustrasi/ruangarchan)


Ruangarchan - Ada usia ketika hidup terasa seperti sedang menunggu sesuatu.

Sudah tidak bisa disebut anak-anak.

Tetapi juga belum merasa benar-benar dewasa.

Usia 20-an sering terlihat menyenangkan dari luar.

Banyak pilihan. Banyak energi. Banyak kesempatan.

Tetapi dari dalam, justru bisa terasa membingungkan.

Teman mulai mendapatkan pekerjaan.

Ada yang menikah.

Ada yang membeli rumah.

Ada yang membangun bisnis.

Ada yang pindah ke luar negeri.

Ada yang sudah terlihat tahu mau menjadi apa.

Sementara kita masih bertanya:

"Sebenarnya saya mau hidup seperti apa?"

Kalau pernah merasakan hal tersebut, mungkin kita sedang berada dalam fase yang sering disebut quarter life crisis.

Ini bukan sekadar istilah populer di media sosial. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan periode ketika seseorang mengalami kebingungan, kecemasan, dan tekanan dalam menghadapi pilihan serta ketidakpastian kehidupan dewasa awal.

Dan menariknya, masalahnya sering bukan karena tidak memiliki pilihan.

Justru karena terlalu banyak pilihan yang harus diputuskan.

Ketika hidup mulai terasa seperti perlombaan

Saat masih sekolah, hidup memiliki jalur yang relatif jelas.

Sekolah.

Ujian.

Lulus.

Kuliah.

Kemudian mencari pekerjaan.

Setelah masuk usia dewasa, jalurnya berubah.

Tidak ada lagi guru yang memberi tahu langkah berikutnya.

Tidak ada kurikulum kehidupan.

Kita harus menentukan sendiri.

Mau bekerja di mana?

Mau tinggal di kota mana?

Mau menikah atau tidak?

Mau punya anak atau tidak?

Mau membangun bisnis?

Mau melanjutkan pendidikan?

Mau mengejar karier atau memilih kehidupan yang lebih tenang?

Semua keputusan terasa penting.

Dan karena setiap keputusan seolah menentukan masa depan, kita bisa merasa takut salah memilih.

Media sosial membuat rasa tertinggal semakin nyata

Dulu kita mungkin hanya membandingkan diri dengan teman sekelas atau tetangga.

Sekarang perbandingannya bisa dengan ribuan orang.

Bangun pagi, buka Instagram.

Ada teman yang baru menikah.

Buka TikTok.

Ada orang seusia kita yang sudah menghasilkan puluhan juta rupiah.

Buka LinkedIn.

Ada teman kuliah yang baru mendapatkan promosi.

Buka media sosial lagi.

Ada orang yang sedang tinggal di luar negeri.

Kemudian kita melihat kehidupan sendiri.

Pekerjaan biasa.

Tabungan belum banyak.

Masih tinggal bersama orang tua.

Belum menikah.

Belum punya rumah.

Belum tahu arah karier.

Perbandingan tersebut bisa membuat kita merasa gagal, padahal kita sedang membandingkan kehidupan nyata kita dengan potongan terbaik kehidupan orang lain.

Kita melihat pencapaian mereka.

Tidak melihat utang, kegagalan, kecemasan, konflik, atau perjalanan panjang di belakangnya.

Usia 20–30 juga sering menjadi masa paling mahal dalam hidup

Ada ironi yang jarang dibicarakan.

Ketika seseorang baru mulai membangun kehidupan, kemampuan finansialnya belum tentu besar.

Tetapi kebutuhan mulai bertambah.

Harus membayar tempat tinggal.

Transportasi.

Makan.

Kebutuhan kerja.

Pendidikan.

Membantu keluarga.

Membangun tabungan.

Mungkin juga membayar cicilan.

Di sisi lain, dunia kerja semakin kompetitif.

Seseorang bisa sudah memiliki pendidikan tinggi tetapi belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai harapan.

Kalaupun mendapatkan pekerjaan, gaji pertama belum tentu langsung membuat hidup nyaman.

Akhirnya muncul pertanyaan:

"Kalau saya sudah bekerja keras, kenapa hidup masih terasa sesulit ini?"

Pertanyaan tersebut bisa menjadi sumber frustrasi tersendiri.

Kita dituntut tahu tujuan sebelum benar-benar mengenal diri sendiri

Ada tekanan untuk segera menemukan passion.

Seolah-olah setiap orang harus tahu sejak muda:

"Saya ingin menjadi apa?"

Padahal manusia berubah.

Hal yang kita sukai pada usia 20 tahun belum tentu sama ketika berusia 30.

Bahkan pekerjaan yang kita impikan bisa ternyata tidak sesuai setelah benar-benar dijalani.

Karena itu, tidak selalu masalah jika seseorang belum memiliki tujuan hidup yang sangat jelas.

Kadang kita justru menemukan arah setelah mencoba banyak hal.

Bekerja.

Gagal.

Pindah bidang.

Bertemu orang baru.

Mendapat pengalaman buruk.

Menemukan sesuatu yang ternyata disukai.

Kehidupan tidak selalu berjalan seperti peta.

Sering kali arah baru muncul setelah kita mulai berjalan.

Takut membuat keputusan yang salah

Quarter life crisis sering terasa seperti berada di persimpangan jalan yang tidak memiliki papan petunjuk.

Salah memilih pekerjaan takut karier berhenti.

Salah memilih pasangan takut masa depan berantakan.

Salah mengambil keputusan finansial takut terlilit utang.

Pindah kota takut menyesal.

Tetap di tempat sekarang takut kehilangan kesempatan.

Akibatnya, kita bisa terjebak dalam kondisi yang melelahkan:

Terlalu banyak berpikir, terlalu sedikit bergerak.

Padahal hampir tidak ada keputusan hidup yang bisa dijamin 100 persen benar.

Sebagian keputusan baru terlihat benar atau salah setelah dijalani.

Yang bisa kita lakukan adalah membuat keputusan dengan informasi yang cukup, memahami risikonya, kemudian siap melakukan penyesuaian.

Ada tekanan dari keluarga yang tidak selalu mudah dijelaskan

Di Indonesia, keputusan hidup seseorang sering tidak hanya menjadi urusan pribadi.

Keluarga memiliki harapan.

Kapan menikah?

Kerja di mana?

Kapan punya rumah?

Kapan punya anak?

Kenapa belum punya pasangan?

Kenapa tidak mencari pekerjaan yang lebih bagus?

Pertanyaan tersebut terkadang disampaikan karena kepedulian.

Tetapi bagi seseorang yang sedang berjuang menemukan arah, pertanyaan sederhana bisa terasa seperti tekanan.

Terutama ketika kita sendiri belum memiliki jawaban.

Bukan berarti keluarga selalu salah.

Tetapi kita juga perlu belajar membedakan antara harapan orang lain dan kehidupan yang benar-benar ingin kita jalani.

Tidak semua orang memulai dari garis yang sama

Ini penting ketika membicarakan kesuksesan di usia 20–30 tahun.

Ada orang yang mendapatkan dukungan finansial dari keluarga.

Ada yang harus membiayai kuliahnya sendiri.

Ada yang mendapatkan pekerjaan melalui jaringan keluarga.

Ada yang harus mengirim lamaran puluhan kali.

Ada yang bisa mengambil risiko karena memiliki tempat untuk pulang.

Ada yang tidak memiliki pilihan tersebut.

Karena itu, kalimat seperti "kalau dia bisa, kamu juga pasti bisa" tidak selalu adil.

Kemampuan seseorang untuk mengambil risiko dipengaruhi oleh kondisi awalnya.

Bukan berarti kita tidak boleh berusaha.

Justru kita perlu memahami posisi sendiri agar target yang dibuat realistis.

Tidak punya rumah di usia 30 bukan berarti gagal

Salah satu tekanan terbesar adalah standar keberhasilan yang terlalu seragam.

Usia 25 harus punya pekerjaan bagus.

Usia 27 harus menikah.

Usia 30 harus punya rumah.

Usia 35 harus punya bisnis.

Padahal kehidupan tidak memiliki jadwal universal.

Seseorang mungkin baru stabil secara finansial di usia 35.

Orang lain mungkin memilih tidak menikah.

Ada yang bekerja sebagai karyawan sampai pensiun.

Ada yang baru menemukan bisnisnya setelah beberapa kali gagal.

Ada yang memilih hidup sederhana meskipun memiliki kesempatan menghasilkan lebih banyak.

Kesuksesan tidak harus terlihat spektakuler.

Hidup yang sesuai dengan kemampuan, nilai, dan kebutuhan kita juga merupakan keberhasilan.

Lalu bagaimana menghadapi quarter life crisis?

Tidak ada satu resep yang berlaku untuk semua orang.

Tetapi ada beberapa hal yang bisa membantu.

1. Berhenti mengukur hidup berdasarkan timeline orang lain

Kalau melihat media sosial membuat kita terus merasa tertinggal, mungkin yang perlu diubah bukan kehidupan kita terlebih dahulu.

Tetapi cara kita mengonsumsi media sosial.

Tidak semua pencapaian orang lain harus menjadi target kita.

2. Fokus pada satu masalah yang paling nyata

Jangan mencoba menyelesaikan seluruh hidup dalam satu malam.

Kalau masalah utama adalah pekerjaan, fokus memperbaiki karier.

Kalau masalah utama adalah keuangan, mulai dari anggaran dan utang.

Kalau masalah utama adalah hubungan, evaluasi hubungan tersebut.

Masalah yang besar akan terasa lebih mungkin diselesaikan ketika dipecah menjadi langkah kecil.

3. Beri ruang untuk mencoba

Tidak semua keputusan harus menjadi keputusan seumur hidup.

Belajar keterampilan baru.

Mencoba pekerjaan berbeda.

Membangun proyek kecil.

Mengikuti komunitas.

Mencari pengalaman.

Kita tidak selalu menemukan jawaban dengan berpikir.

Kadang jawaban datang setelah mencoba.

4. Jangan menjadikan usia sebagai deadline

Usia adalah angka.

Bukan indikator tunggal keberhasilan.

Yang jauh lebih penting adalah apakah kita bergerak ke arah yang masuk akal bagi kehidupan kita sendiri.

Lebih lambat bukan berarti gagal.

Berbeda bukan berarti salah.

Pada akhirnya, kita tidak benar-benar terlambat

Mungkin salah satu penyebab quarter life crisis adalah keyakinan bahwa usia 20–30 adalah kesempatan terakhir untuk menentukan masa depan.

Padahal tidak.

Kita masih bisa berganti pekerjaan.

Belajar lagi.

Memulai bisnis.

Mengakhiri hubungan yang tidak sehat.

Membangun hubungan baru.

Mengubah gaya hidup.

Mengubah prioritas.

Bahkan mengubah definisi sukses.

Kehidupan dewasa bukan ujian dengan satu kali kesempatan.

Ia lebih mirip perjalanan panjang yang memungkinkan kita melakukan koreksi berkali-kali.

Jadi kalau hari ini usia kita 20-an atau mendekati 30 dan masih merasa bingung, mungkin kita tidak sedang gagal.

Kita mungkin hanya sedang berada di bagian kehidupan ketika peta lama sudah tidak berlaku, sementara peta baru belum selesai dibuat.

Dan itu memang tidak nyaman.

Tetapi bukan berarti tidak ada jalan.

Mungkin kita tidak perlu mengetahui seluruh masa depan sekarang.

Cukup tahu satu langkah yang bisa dilakukan hari ini.

Karena terkadang, arah hidup tidak ditemukan dengan menunggu kepastian.

Arah ditemukan ketika kita berani berjalan. (acs)

Tags:

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default