![]() |
| Kenapa Banyak Orang Indonesia Sulit Menabung Meski Sudah Bekerja. (Ilustrasi/ruangarchan) |
Ruangarchan - Setiap kali gajian, ada satu harapan sederhana:
"Bulan ini harus bisa nabung."
Uang masuk.
Kita merasa sedikit lega.
Lalu mulai membayar kebutuhan yang sudah menunggu.
Kontrakan atau cicilan rumah. Listrik. Internet. Transportasi. Belanja dapur. Uang sekolah anak. Cicilan kendaraan. Tagihan kartu kredit atau paylater.
Belum lagi kebutuhan orang tua, biaya kesehatan, nongkrong sesekali, undangan pernikahan, servis kendaraan, sampai pengeluaran kecil yang kelihatannya tidak seberapa.
Tahu-tahu tanggal sudah mendekati akhir bulan.
Saldo tinggal sedikit.
Tabungan kembali gagal.
Lalu muncul pertanyaan:
"Kenapa saya sudah bekerja bertahun-tahun, tapi tetap susah punya tabungan?"
Jawabannya tidak selalu karena boros.
Dan ini penting untuk dibicarakan.
Sebab masalah menabung sering kali jauh lebih kompleks daripada sekadar nasihat, "Kurangi jajan dan disiplin."
Gaji tidak selalu berarti punya uang lebih
Ada anggapan bahwa setelah seseorang mendapatkan pekerjaan dan menerima gaji setiap bulan, kehidupan finansial otomatis menjadi lebih aman.
Kenyataannya tidak selalu begitu.
Pendapatan memang penting, tetapi yang menentukan kemampuan menabung adalah jarak antara pendapatan dan kebutuhan hidup.
Kalau penghasilan Rp5 juta dan kebutuhan rutin Rp4,8 juta, ruang untuk menabung hanya Rp200 ribu.
Kalau kemudian kendaraan rusak dan membutuhkan Rp1 juta, tabungan satu bulan bisa langsung habis.
Masalahnya bukan orang tersebut tidak ingin menabung.
Memang ruang finansialnya sangat sempit.
Inilah yang sering tidak terlihat ketika orang lain hanya berkata:
"Yang penting sisihkan uang di awal."
Nasihat itu bagus, tetapi tidak selalu cukup.
Kalau pendapatan hampir seluruhnya habis untuk kebutuhan dasar, yang dibutuhkan bukan hanya disiplin, tetapi juga peningkatan kapasitas pendapatan dan pengelolaan beban pengeluaran.
Pengeluaran kecil ternyata bisa menjadi besar
Ada pengeluaran yang terasa terlalu kecil untuk dipikirkan.
Rp10 ribu.
Rp20 ribu.
Rp30 ribu.
Ngopi.
Pesan makanan.
Ongkos tambahan.
Biaya admin.
Langganan aplikasi.
Belanja kecil di marketplace.
Sekali dua kali mungkin tidak terasa.
Tetapi ketika terjadi berkali-kali dalam sebulan, jumlahnya bisa menjadi cukup besar.
Bukan berarti semua pengeluaran kecil harus dihapus.
Kita juga membutuhkan hiburan.
Masalahnya adalah ketika pengeluaran kecil tidak pernah dihitung karena dianggap tidak penting.
Padahal uang tidak hanya habis karena satu pembelian besar.
Sering kali uang habis melalui puluhan keputusan kecil yang terjadi hampir setiap hari.
Gaya hidup juga ikut naik ketika penghasilan naik
Ada fenomena sederhana:
Ketika penghasilan bertambah, kebutuhan sering ikut bertambah.
Dulu cukup makan sederhana.
Setelah gaji naik, mulai lebih sering makan di luar.
Dulu menggunakan kendaraan yang ada.
Setelah pendapatan meningkat, ingin mengganti kendaraan.
Dulu tinggal di tempat sederhana.
Setelah kondisi ekonomi membaik, ingin tempat tinggal yang lebih nyaman.
Tidak ada yang salah dengan meningkatkan kualitas hidup.
Justru itu salah satu alasan kita bekerja.
Masalah muncul ketika setiap kenaikan pendapatan langsung berubah menjadi kenaikan gaya hidup.
Gaji naik Rp1 juta.
Pengeluaran ikut naik Rp1 juta.
Akhirnya kemampuan menabung tidak berubah.
Kita merasa sudah mengalami kemajuan karena penghasilan bertambah, tetapi kondisi keuangan tetap terasa sama.
Ada juga pengeluaran yang tidak datang setiap bulan
Ini salah satu alasan mengapa seseorang merasa sudah membuat anggaran tetapi tetap gagal menabung.
Kebutuhan tahunan sering tidak dianggap sebagai bagian dari pengeluaran rutin.
Bayar pajak kendaraan.
Servis motor.
Biaya sekolah.
Hari raya.
Mudik.
Hadiah pernikahan.
Perbaikan rumah.
Kebutuhan keluarga.
Perpanjangan dokumen.
Ketika pengeluaran tersebut muncul, kita mengambil uang dari tabungan.
Kemudian merasa tabungan tidak pernah bertambah.
Padahal sebenarnya masalahnya adalah pengeluaran tersebut memang sudah bisa diprediksi, tetapi tidak dipersiapkan sejak awal.
Solusinya sederhana:
Pengeluaran tahunan perlu diperlakukan sebagai pengeluaran bulanan.
Jika setiap tahun membutuhkan Rp6 juta untuk berbagai kebutuhan tertentu, secara sederhana kita bisa menganggapnya sebagai sekitar Rp500 ribu per bulan yang perlu disiapkan.
Dengan begitu, ketika tagihan datang, kita tidak merasa sedang mengalami "musibah finansial."
Menabung sering kalah dengan kebutuhan yang terasa mendesak
Manusia cenderung lebih mudah membayar sesuatu yang terlihat nyata.
Tagihan jatuh tempo terasa mendesak.
Makan hari ini terasa nyata.
Cicilan harus dibayar.
Sedangkan tabungan terasa seperti kebutuhan untuk masa depan.
Akibatnya, tabungan sering mendapatkan sisa.
Kalau ada uang, ditabung.
Kalau tidak ada, tidak apa-apa.
Masalahnya, hampir selalu ada kebutuhan lain yang muncul.
Karena itu, salah satu perubahan paling penting adalah membalik kebiasaannya.
Bukan:
Pendapatan → kebutuhan → keinginan → sisa → tabungan.
Tetapi:
Pendapatan → tabungan → kebutuhan → keinginan.
Jumlahnya tidak harus besar.
Yang penting konsisten dan realistis.
Tantangan terbesar bukan selalu keinginan, tetapi kewajiban
Bagi orang yang masih lajang, menabung mungkin relatif lebih fleksibel.
Tetapi situasinya bisa berubah ketika seseorang memiliki keluarga.
Ada pasangan.
Ada anak.
Ada orang tua yang perlu dibantu.
Ada kebutuhan rumah tangga.
Ada biaya pendidikan.
Ada kebutuhan kesehatan.
Penghasilan yang sebelumnya terasa cukup untuk satu orang tiba-tiba harus menopang beberapa kebutuhan sekaligus.
Karena itu, membandingkan kemampuan menabung antarorang juga tidak selalu adil.
Dua orang dengan gaji yang sama bisa memiliki kondisi finansial yang sangat berbeda.
Satu mungkin hanya menanggung dirinya sendiri.
Yang lain mungkin menjadi tulang punggung keluarga.
Utang membuat ruang bernapas semakin sempit
Cicilan pada dasarnya mengambil sebagian pendapatan masa depan untuk membayar kebutuhan hari ini.
Ketika jumlah cicilan masih terkendali, mungkin tidak terlalu terasa.
Tetapi ketika cicilan mulai menumpuk, sebagian besar gaji sudah memiliki tujuan sebelum uang tersebut masuk rekening.
Cicilan rumah.
Kendaraan.
Kartu kredit.
Paylater.
Pinjaman konsumtif.
Akibatnya, setiap bulan kita bukan lagi menentukan ke mana uang akan pergi.
Kita hanya menjalankan daftar kewajiban yang sudah dibuat sebelumnya.
Di titik ini, persoalan menabung bukan lagi sekadar bagaimana menyisihkan uang.
Tetapi bagaimana mengurangi beban tetap agar ada ruang untuk bernapas.
Menabung juga membutuhkan tujuan
Ada perbedaan antara menabung karena merasa "harus" dan menabung karena memiliki tujuan.
Kalau tujuan tidak jelas, menabung terasa seperti mengorbankan kesenangan hari ini demi sesuatu yang belum terlihat.
Tetapi kalau tujuannya jelas, kita lebih mudah memahami alasan di balik pengorbanan tersebut.
Misalnya:
Dana darurat.
Biaya sekolah anak.
Uang muka rumah.
Modal usaha.
Dana pensiun.
Liburan.
Atau sekadar memiliki cadangan agar tidak panik ketika sesuatu terjadi.
Tujuan membuat angka di rekening terasa lebih bermakna.
Jangan mulai dengan target yang membuat menyerah
Kesalahan lain adalah menetapkan target terlalu tinggi.
Baru mulai menabung langsung ingin menyisihkan 20 atau 30 persen penghasilan.
Bagus kalau mampu.
Tetapi kalau target tersebut membuat kebutuhan sehari-hari terganggu dan akhirnya berhenti total, hasilnya justru tidak baik.
Lebih baik mulai dari angka yang realistis.
Rp50 ribu.
Rp100 ribu.
Rp200 ribu.
Yang penting dilakukan secara konsisten.
Ketika penghasilan meningkat atau pengeluaran berhasil dikurangi, jumlahnya bisa dinaikkan.
Menabung bukan perlombaan siapa yang paling besar.
Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan bahwa setiap kali mendapatkan penghasilan, sebagian uang tidak langsung dibelanjakan.
Tetapi kita juga harus jujur: tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan hemat
Ini mungkin bagian paling penting.
Ada batas ketika seseorang sudah mengurangi banyak pengeluaran tetapi tetap tidak memiliki ruang untuk menabung.
Kalau pendapatan terlalu kecil dibanding kebutuhan dasar, menghemat terus-menerus memiliki batas.
Tidak mungkin seseorang terus mengurangi makan, tempat tinggal, transportasi, dan kebutuhan penting lainnya tanpa konsekuensi.
Pada kondisi seperti ini, solusi perlu diperluas:
Mencari sumber pendapatan tambahan.
Meningkatkan keterampilan.
Mencari pekerjaan dengan penghasilan lebih baik.
Membangun usaha sampingan yang realistis.
Mengurangi utang dengan strategi yang tepat.
Atau meninjau kembali pengeluaran besar yang paling membebani.
Dengan kata lain, menabung bukan hanya persoalan mengurangi pengeluaran.
Kadang masalahnya adalah pendapatan yang perlu ditingkatkan.
Jadi, kenapa banyak orang Indonesia sulit menabung?
Karena kehidupan tidak berhenti hanya karena kita ingin menyimpan uang.
Setiap bulan selalu ada kebutuhan.
Harga kebutuhan bisa berubah.
Keluarga membutuhkan sesuatu.
Kendaraan bisa rusak.
Anak sekolah.
Orang tua membutuhkan bantuan.
Ada cicilan yang harus dibayar.
Dan di tengah semua itu, kita juga ingin menikmati hidup.
Jadi kalau sampai hari ini tabungan belum sebanyak yang diharapkan, jangan langsung menyimpulkan bahwa diri sendiri tidak disiplin.
Coba lihat lebih jujur:
Berapa penghasilan yang benar-benar tersedia?
Berapa kebutuhan wajib setiap bulan?
Berapa cicilan yang harus dibayar?
Berapa pengeluaran yang sebenarnya bisa dikurangi?
Dan yang paling penting:
Apakah masalahnya memang terlalu banyak belanja, atau memang ruang finansial kita terlalu sempit?
Pertanyaan tersebut bisa menghasilkan jawaban yang jauh berbeda.
Karena pada akhirnya, menabung bukan tentang menjadi orang yang paling pelit.
Menabung adalah usaha menciptakan sedikit ruang antara uang yang kita dapatkan hari ini dan ketidakpastian yang mungkin datang besok.
Dan terkadang, memiliki tabungan bukan membuat kita kaya.
Tetapi membuat kita sedikit lebih tenang ketika hidup tiba-tiba tidak berjalan sesuai rencana. (acs)

