![]() |
| Doomscrolling: Kenapa Kita Terus Scroll Meski Tahu Itu Melelahkan? (Ilustrasi/ruangarchan) |
Ruangarchan - Kita sering membuka ponsel hanya untuk melihat satu hal.
Mungkin membalas WhatsApp. Mengecek Instagram. Melihat TikTok sebentar. Membaca berita terbaru.
Lalu beberapa menit berubah menjadi setengah jam.
Jempol terus bergerak.
Satu video selesai, muncul video berikutnya. Satu berita selesai dibaca, ada berita lain yang lebih membuat penasaran. Timeline terus berjalan seolah tidak pernah habis.
Sampai akhirnya kita meletakkan ponsel dan baru sadar:
"Tadi sebenarnya aku ngapain, ya?"
Lebih aneh lagi, setelah berjam-jam scrolling, kita tidak selalu merasa lebih senang.
Kadang justru merasa lelah, penuh pikiran, cemas, bahkan sulit tidur.
Inilah yang sering disebut doomscrolling: kebiasaan mengonsumsi konten secara terus-menerus, terutama berita atau informasi negatif, meskipun kita sadar aktivitas tersebut membuat kita merasa lebih buruk.
Lalu, kalau kita tahu scrolling membuat lelah, kenapa masih dilakukan?
Bukan sekadar karena kita tidak punya kontrol diri
Mudah sekali mengatakan, "Ya tinggal berhenti."
Masalahnya, aplikasi digital memang dirancang agar kita terus berada di dalamnya.
Setiap kali kita scroll, ada kemungkinan menemukan sesuatu yang menarik.
Video lucu.
Berita mengejutkan.
Konten kontroversial.
Drama orang lain.
Informasi terbaru.
Sesuatu yang membuat marah.
Sesuatu yang membuat penasaran.
Otak mendapatkan rangsangan baru secara terus-menerus.
Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan muncul setelah menggeser layar berikutnya.
Dan justru ketidakpastian itu yang membuat scrolling sulit dihentikan.
Kita berpikir:
"Satu lagi."
Lalu satu lagi berubah menjadi sepuluh.
Kita sebenarnya sedang mencari kepastian
Doomscrolling sering muncul ketika seseorang merasa dunia sedang tidak aman atau tidak pasti.
Harga kebutuhan naik.
Berita politik berubah setiap hari.
Ada kabar PHK.
Krisis ekonomi.
Bencana.
Konflik.
Masalah sosial.
Ketika banyak hal di luar kendali, kita mencari informasi untuk memahami apa yang sedang terjadi.
Secara logika, itu masuk akal.
Kalau mengetahui lebih banyak informasi, kita mungkin merasa lebih siap.
Namun ada titik ketika mencari informasi berubah menjadi kebiasaan yang justru meningkatkan kecemasan.
Kita membaca satu berita untuk mendapatkan kepastian.
Tetapi berita tersebut memunculkan pertanyaan baru.
Kita mencari jawabannya.
Muncul informasi lain.
Kemudian kita mencari lagi.
Akhirnya kita tidak lagi mencari jawaban.
Kita hanya terus mencari.
Algoritma tidak pernah mengatakan, "Sudah cukup"
Inilah perbedaan antara membaca koran dan scrolling media sosial.
Koran memiliki halaman terakhir.
Buku memiliki halaman terakhir.
Siaran berita memiliki durasi tertentu.
Tetapi feed media sosial pada dasarnya tidak memiliki akhir.
Selalu ada konten berikutnya.
Algoritma mempelajari apa yang membuat kita berhenti scrolling, lalu menyajikan lebih banyak konten serupa.
Kalau kita sering berhenti pada berita buruk, konten seperti itu bisa semakin sering muncul.
Kalau kita sering menonton konflik, drama, atau perdebatan, platform memiliki alasan untuk terus menawarkan konten dengan karakter serupa.
Akibatnya, kita bisa merasa seolah-olah dunia memang selalu seburuk yang terlihat di layar.
Padahal timeline bukan representasi sempurna dari kehidupan nyata.
Timeline adalah hasil dari pilihan algoritma, perilaku kita, dan interaksi kita sebelumnya.
Kenapa berita negatif terasa lebih menarik?
Ada alasan psikologis mengapa otak manusia cenderung memperhatikan informasi yang dianggap mengancam.
Berita buruk bisa terasa lebih penting daripada berita biasa.
Kita mungkin tidak terlalu tertarik membaca:
"Situasi hari ini berjalan normal."
Tetapi ketika judulnya:
"Ancaman Baru Mengintai..."
perhatian kita langsung tertarik.
Secara evolusioner, kemampuan memperhatikan potensi bahaya memang berguna untuk bertahan hidup.
Masalahnya, otak manusia sekarang hidup di dunia dengan jumlah informasi yang jauh lebih besar.
Dulu kita mungkin perlu memperhatikan satu ancaman di sekitar kita.
Sekarang dalam beberapa menit, kita bisa menerima puluhan ancaman dari seluruh dunia.
Banjir di kota lain.
Krisis ekonomi di negara lain.
Konflik di belahan dunia lain.
Kasus kriminal.
Kecelakaan.
Skandal.
Semua masuk ke layar yang sama.
Tubuh kita mungkin sedang duduk santai di kamar.
Tetapi pikiran kita seperti berkeliling dunia mencari bahaya.
Doomscrolling membuat kita merasa produktif
Ini bagian yang menarik.
Scrolling berita sering terasa seperti sedang melakukan sesuatu yang berguna.
Kita merasa sedang mengikuti perkembangan zaman.
Tidak mau ketinggalan informasi.
Ingin tahu apa yang sedang terjadi.
Bahkan ada istilah yang sering digunakan: FOMO atau fear of missing out.
Kita takut melewatkan sesuatu yang penting.
Karena itu, ponsel terus diperiksa.
Padahal mengetahui semua hal yang terjadi di dunia bukan berarti kita memiliki kendali lebih besar terhadap hidup.
Ada informasi yang memang perlu diketahui.
Tetapi ada juga informasi yang tidak perlu kita konsumsi setiap saat.
Mengetahui lebih banyak tidak selalu berarti hidup menjadi lebih baik.
Efeknya sering terasa setelah layar ditutup
Masalah doomscrolling bukan hanya soal waktu yang terbuang.
Kebiasaan ini juga bisa membuat pikiran sulit beristirahat.
Setelah membaca banyak informasi negatif, kita mungkin merasa lebih tegang.
Malam hari menjadi waktu yang paling rawan.
Niat awalnya hanya melihat ponsel sebelum tidur.
Kemudian satu video.
Satu berita.
Satu komentar.
Satu thread.
Tiba-tiba jam sudah jauh lebih malam.
Tubuh sebenarnya sudah lelah.
Tetapi pikiran masih aktif.
Besok paginya, kita bangun dengan kondisi kurang segar.
Lalu pada malam berikutnya, pola yang sama terulang.
Bukan karena kita tidak tahu bahwa kebiasaan tersebut melelahkan.
Kita tahu.
Hanya saja kita sudah membentuk sebuah pola.
Lalu bagaimana cara berhenti?
Tidak harus langsung menghapus semua media sosial.
Bagi banyak orang, itu tidak realistis.
Kita bisa mulai dengan membuat batas yang sederhana.
Pertama, tentukan waktu untuk mendapatkan informasi.
Misalnya membaca berita pada pagi atau sore hari, bukan setiap kali ada waktu kosong.
Kedua, jangan menjadikan tempat tidur sebagai tempat scrolling tanpa batas.
Kalau ingin menggunakan ponsel sebelum tidur, tentukan batas waktunya.
Ketiga, matikan notifikasi yang tidak penting.
Tidak semua informasi membutuhkan respons dalam hitungan detik.
Keempat, perhatikan kondisi setelah scrolling.
Tanyakan kepada diri sendiri:
"Setelah melihat semua ini, aku merasa lebih baik atau justru lebih cemas?"
Pertanyaan sederhana tersebut bisa membuat kita lebih sadar terhadap pola konsumsi digital sendiri.
Kelima, ganti kebiasaan, bukan hanya menghilangkannya.
Ketika tangan ingin mengambil ponsel, kita bisa mencoba aktivitas lain: berjalan sebentar, minum air, membaca beberapa halaman buku, berbicara dengan keluarga, atau sekadar duduk tanpa melakukan apa-apa.
Awalnya terasa membosankan.
Tetapi mungkin justru itu yang dibutuhkan otak.
Kita tidak harus tahu semuanya
Ada satu hal yang semakin penting di era informasi:
Kemampuan untuk berhenti menerima informasi.
Kita tidak harus mengetahui semua berita.
Tidak harus membaca semua komentar.
Tidak harus mengikuti semua drama.
Tidak harus selalu tahu apa yang sedang viral.
Dan tidak semua informasi yang muncul di layar kita memiliki hubungan langsung dengan kehidupan kita.
Menjaga kesehatan mental bukan berarti menutup mata terhadap dunia.
Kita tetap perlu peduli.
Tetap perlu mendapatkan informasi.
Tetapi kita juga perlu menentukan kapan informasi itu cukup.
Karena kalau setiap hari kita memberi pikiran kita ribuan potongan masalah dari seluruh dunia, jangan heran kalau kepala terasa penuh meskipun tubuh sedang tidak ke mana-mana.
Mungkin masalahnya bukan ponselnya
Ponsel hanyalah alat.
Yang perlu kita perhatikan adalah hubungan kita dengan alat tersebut.
Apakah kita membuka ponsel karena memang membutuhkan sesuatu?
Atau karena sedang bosan?
Cemas?
Kesepian?
Tidak ingin berpikir?
Atau sekadar tidak tahu harus melakukan apa?
Pertanyaan itu penting.
Sebab terkadang kita bukan kecanduan scrolling.
Kita hanya sedang berusaha melarikan diri dari rasa tidak nyaman yang lain.
Dan layar menjadi tempat pelarian yang paling mudah.
Gratis.
Cepat.
Selalu tersedia.
Tidak meminta banyak dari kita.
Sampai akhirnya kita sadar bahwa waktu sudah berlalu.
Berhenti scroll bukan berarti berhenti peduli
Kita hidup di zaman ketika informasi datang tanpa diminta.
Karena itu, mungkin kemampuan yang paling berharga bukan lagi sekadar mencari informasi, tetapi mengetahui kapan harus berhenti mencarinya.
Kita boleh tahu apa yang terjadi di dunia.
Tetapi kita juga berhak menikmati kehidupan yang sedang terjadi tepat di depan mata.
Makan tanpa melihat layar.
Ngobrol tanpa sesekali membuka notifikasi.
Berjalan tanpa harus merekam semuanya.
Tidur tanpa membawa seluruh masalah dunia ke atas bantal.
Sebab ada perbedaan besar antara terinformasi dan terus-menerus terpapar informasi.
Yang pertama membantu kita memahami dunia.
Yang kedua bisa membuat kita lupa menjalani hidup.
Mungkin malam ini, ketika jempol kembali ingin menggeser layar untuk kesekian kalinya, kita bisa berhenti sebentar dan bertanya:
"Aku sedang mencari informasi, atau sebenarnya sedang mencari sesuatu yang lain?"
Kadang-kadang, jawaban dari pertanyaan itu jauh lebih penting daripada video berikutnya. (acs)

