Kenapa Banyak Anak Muda Takut Menatap Masa Depan?

Ruang Archan
By -
0

Kenapa Banyak Anak Muda Takut Menatap Masa Depan?(Ilustrasi/ruangarchan)


Ruangarchan - Ada masa ketika masa depan terdengar seperti sesuatu yang menyenangkan.

Lulus sekolah. Kuliah. Mendapat pekerjaan. Punya penghasilan. Menikah. Membeli rumah. Membangun keluarga. Kemudian hidup berjalan sebagaimana mestinya.

Setidaknya, begitulah gambaran yang sering kita dengar ketika masih kecil.

Tetapi semakin dewasa, masa depan justru bisa terasa seperti sesuatu yang menakutkan.

Bukan karena kita tidak punya mimpi.

Justru karena terlalu banyak hal yang harus dipikirkan.

Hari ini mencari pekerjaan saja tidak mudah. Harga kebutuhan terus terasa naik. Rumah semakin sulit dijangkau. Persaingan semakin ketat. Di media sosial, kita melihat teman sebaya sudah memiliki karier, bisnis, rumah, kendaraan, bahkan keluarga.

Sementara kita masih bertanya kepada diri sendiri:

"Sebenarnya saya mau menjadi apa?"

Dan pertanyaan itu semakin berat ketika usia terus berjalan.

Masa depan tidak lagi terasa seperti janji

Bagi sebagian anak muda, masa depan dahulu identik dengan kesempatan.

Sekarang, masa depan sering kali identik dengan tanggung jawab.

Ada pekerjaan yang harus dipertahankan.

Ada cicilan yang harus dibayar.

Ada orang tua yang mungkin suatu hari membutuhkan bantuan.

Ada keinginan untuk memiliki rumah.

Ada pasangan yang ingin diajak membangun kehidupan.

Dan di tengah semuanya, ada kebutuhan sederhana yang sering terlupakan: ingin merasa aman.

Masalahnya, rasa aman semakin sulit ditemukan ketika kehidupan bergerak terlalu cepat sementara kemampuan kita untuk mengikutinya tidak selalu bertambah dengan kecepatan yang sama.

Kita dituntut berkembang.

Tetapi biaya untuk berkembang juga tidak murah.

Kursus membutuhkan uang. Pendidikan membutuhkan biaya. Membangun bisnis membutuhkan modal. Bahkan mencari pekerjaan terkadang membutuhkan waktu, koneksi, perangkat, dan kemampuan yang tidak semua orang miliki.

Akhirnya, sebagian anak muda memilih berhenti sejenak.

Bukan karena tidak punya ambisi.

Mereka hanya sedang menghitung risiko.

Ketika membandingkan hidup menjadi kebiasaan

Ada satu hal yang membuat ketakutan terhadap masa depan semakin besar: media sosial.

Setiap hari kita bisa melihat kehidupan orang lain.

Teman yang baru mendapatkan pekerjaan.

Mantan teman sekolah yang menikah.

Orang seusia kita yang berhasil membangun bisnis.

Seseorang yang membeli rumah di usia 25 tahun.

Orang lain yang bisa bekerja dari luar negeri.

Masalahnya, kita melihat hasil akhirnya tanpa melihat perjalanan panjang di belakangnya.

Kita melihat rumahnya, bukan cicilannya.

Melihat bisnisnya, bukan kerugiannya.

Melihat pekerjaannya, bukan kecemasannya.

Melihat pernikahannya, bukan masalah rumah tangganya.

Media sosial membuat hidup orang lain terlihat seperti sebuah pencapaian yang lengkap.

Padahal kehidupan manusia tidak pernah sesederhana unggahan 30 detik.

Ketika terlalu sering membandingkan diri, kita akhirnya merasa tertinggal.

Bukan karena benar-benar tertinggal, tetapi karena menggunakan garis waktu orang lain untuk mengukur kehidupan sendiri.

Anak muda bukan tidak mau bekerja keras

Label seperti "generasi malas" sering kali terlalu sederhana untuk menjelaskan persoalan yang jauh lebih kompleks.

Banyak anak muda bekerja keras.

Mereka mengambil pekerjaan tambahan.

Membangun usaha kecil.

Menjadi freelancer.

Membuat konten.

Belajar keterampilan baru.

Bekerja dari pagi sampai malam.

Tetapi kerja keras tidak selalu menghasilkan rasa aman.

Inilah bagian yang sering luput dalam pembicaraan tentang anak muda.

Seseorang bisa sangat rajin tetapi tetap kesulitan membeli rumah.

Seseorang bisa berpendidikan tinggi tetapi belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai.

Seseorang bisa memiliki pekerjaan tetap tetapi tetap cemas menghadapi biaya hidup.

Artinya, persoalannya bukan semata-mata tentang kemauan.

Ada kondisi ekonomi dan sosial yang ikut menentukan seberapa jauh seseorang bisa bergerak.

Ada ketakutan untuk gagal

Selain persoalan ekonomi, ada ketakutan lain yang lebih personal: takut mengambil keputusan yang salah.

Harus memilih pekerjaan yang mana?

Haruskah menikah sekarang?

Haruskah membeli rumah?

Haruskah memulai bisnis?

Haruskah pindah kota?

Haruskah melanjutkan pendidikan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terlihat sederhana sampai kita menyadari bahwa hampir setiap keputusan memiliki konsekuensi finansial.

Generasi sebelumnya mungkin masih memiliki ruang untuk mencoba dan memulai kembali.

Hari ini, sebagian anak muda merasa satu keputusan buruk bisa membuat mereka kehilangan bertahun-tahun.

Karena itu, mereka menjadi terlalu berhati-hati.

Menunda.

Berpikir terlalu lama.

Takut mengambil risiko.

Kemudian orang lain melihatnya sebagai tidak punya arah.

Padahal mungkin mereka hanya takut salah langkah.

Kita terlalu sering menganggap hidup sebagai perlombaan

Ada usia tertentu untuk lulus.

Ada usia tertentu untuk bekerja.

Ada usia tertentu untuk menikah.

Ada usia tertentu untuk punya rumah.

Ada usia tertentu untuk sukses.

Seolah-olah kehidupan memiliki jadwal yang harus dipatuhi semua orang.

Padahal manusia tumbuh dengan kondisi yang berbeda.

Ada yang memulai dengan dukungan keluarga.

Ada yang harus membiayai dirinya sendiri.

Ada yang mendapatkan kesempatan lebih cepat.

Ada yang harus bekerja terlebih dahulu sebelum bisa melanjutkan pendidikan.

Ada yang memiliki jaringan luas.

Ada yang harus membangun semuanya dari nol.

Membandingkan hasil dari dua kehidupan tanpa membandingkan titik awalnya adalah sesuatu yang tidak adil.

Karena itu, mungkin kita perlu berhenti bertanya:

"Kenapa saya belum seperti mereka?"

Dan mulai bertanya:

"Apa yang sebenarnya ingin saya bangun dalam hidup saya?"

Pertanyaan kedua jauh lebih sehat.

Masa depan tidak harus langsung terlihat jelas

Kita sering merasa harus memiliki rencana hidup yang sempurna.

Padahal mungkin yang dibutuhkan bukan peta perjalanan sampai 20 tahun ke depan.

Cukup tahu langkah berikutnya.

Kalau belum tahu pekerjaan impian, cari pekerjaan yang bisa memberikan pengalaman.

Kalau belum mampu membeli rumah, bangun dulu kondisi keuangan yang lebih sehat.

Kalau belum siap menikah, tidak perlu memaksakan diri hanya karena teman-teman sudah melakukannya.

Kalau belum menemukan passion, tidak apa-apa.

Tidak semua orang menemukan jawabannya di usia 20-an.

Sebagian orang baru memahami dirinya setelah melewati berbagai pekerjaan, kegagalan, hubungan, dan pengalaman hidup.

Dan itu bukan kegagalan.

Itu proses.

Yang perlu kita ubah mungkin bukan mimpinya, tetapi ukurannya

Masa depan yang baik tidak selalu berarti menjadi kaya.

Tidak selalu berarti memiliki rumah besar.

Tidak selalu berarti mempunyai jabatan tinggi.

Bagi sebagian orang, masa depan yang baik mungkin sesederhana memiliki pekerjaan yang manusiawi, keluarga yang sehat, utang yang terkendali, dan cukup waktu untuk menikmati kehidupan.

Definisi keberhasilan memang seharusnya boleh berubah.

Sebab semakin dewasa, kita mulai memahami bahwa hidup bukan hanya tentang seberapa tinggi kita bisa naik, tetapi juga seberapa tenang kita bisa menjalani perjalanan.

Jadi, kenapa banyak anak muda takut menatap masa depan?

Mungkin karena mereka tidak benar-benar takut pada masa depan.

Mereka takut pada ketidakpastian yang ada di dalamnya.

Takut tidak cukup uang.

Takut gagal.

Takut memilih jalan yang salah.

Takut mengecewakan keluarga.

Takut tertinggal.

Takut bekerja keras tetapi tetap tidak mendapatkan kehidupan yang mereka bayangkan.

Dan mungkin ketakutan itu sangat manusiawi.

Kita tidak perlu selalu menjawabnya dengan kalimat, "Jangan takut, kamu pasti sukses."

Kadang-kadang, yang dibutuhkan seseorang bukan motivasi besar.

Hanya sebuah pengingat bahwa hidup tidak harus selesai dipahami hari ini.

Masa depan memang tidak bisa dijamin.

Tetapi bukan berarti kita tidak bisa menyiapkannya sedikit demi sedikit.

Satu pekerjaan yang lebih baik.

Satu keterampilan baru.

Satu keputusan finansial yang lebih bijak.

Satu hubungan yang lebih sehat.

Satu langkah kecil setiap hari.

Barangkali masa depan memang tidak perlu ditatap dengan penuh kepastian.

Cukup dihadapi dengan keberanian untuk melangkah, meski kita belum tahu persis ke mana akhirnya.

Karena pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk menjadi yang paling cepat sampai.

Yang penting adalah tetap berjalan tanpa kehilangan diri sendiri. (acs)

Tags:

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default