Es Kristal dan Sebuah Perjalanan yang Belum Selesai

Ruang Archan
By -
0


Bagaimana pun usaha itu berjalan hari itu, usaha es pasti akan cair. (Ilustrasi)

Ruangarchan -
Ada orang-orang yang hidupnya berjalan seperti rencana.

Menikah, membangun rumah, bekerja, membesarkan anak, lalu menjalani hari-hari dengan ritme yang perlahan menjadi biasa.

Tetapi ada juga yang harus menulis ulang hidupnya berkali-kali.

Teman saya termasuk salah satunya.

Ia sudah cukup lama menduda. Sampai akhirnya, setelah melewati waktu yang panjang, ia kembali membuka hati dan menikah.

Harapannya sederhana: membangun keluarga, bekerja bersama, membesarkan anak-anak, lalu menjalani kehidupan yang lebih tenang.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia memilih usaha sederhana: berjualan es kristal.

Tidak ada yang terlalu mewah dari usaha itu. Hanya es yang diproduksi, dikemas, diantar, lalu dicari pelanggan.

Namun di balik sebongkah es yang dingin, ada panasnya perjuangan mencari nafkah.

Ada kebutuhan rumah, anak-anak, tagihan, dan hari-hari ketika penjualan tidak selalu sesuai harapan.

Begitulah usaha kecil bekerja.

Tidak selalu menjanjikan angka besar, tetapi selalu memberikan alasan untuk terus bergerak.


Ketika enam bulan belum sempat menjadi kenangan

Pernikahan itu ternyata tidak berlangsung lama.

Belum genap enam bulan, mereka akhirnya memilih berpisah.

Anak-anak kemudian ikut bersama masing-masing.

Saya tidak ingin mencari siapa yang salah.

Juga tidak ingin menentukan siapa yang benar.

Sebab dari luar, kita sering hanya melihat potongan kecil dari kehidupan orang lain. Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu sebuah rumah.

Setiap orang memiliki cerita, perasaan, pertimbangan, dan luka yang mungkin tidak pernah terlihat.

Karena itu, mungkin yang paling bijaksana bukan mencari pemenang, melainkan berharap agar semua pihak menemukan jalan yang lebih baik.

Menariknya, setelah berpisah, mereka tetap menjalankan usaha yang sama: es kristal.

Hanya saja sekarang berada di tempat yang berbeda.

Dua tempat.

Dua kehidupan.

Dua perjalanan.


Tidak semua perpisahan harus menjadi permusuhan

Ada satu hal yang sering kita lupakan ketika melihat sebuah hubungan berakhir.

Kita terlalu sibuk bertanya, "Siapa yang salah?"

Padahal ada pertanyaan lain yang mungkin lebih penting:

"Setelah ini, bagaimana mereka bisa tetap menjalani hidup dengan baik?"

Perpisahan tidak otomatis menghapus masa lalu.

Dan masa lalu tidak harus selalu menjadi alasan untuk saling menjatuhkan.

Apalagi ketika ada anak-anak yang juga memiliki kehidupan dan perasaan mereka sendiri.

Mungkin yang terbaik adalah membiarkan masing-masing orang menemukan ruang untuk bernapas, bekerja, menjadi orang tua, dan perlahan berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua yang kita rencanakan akan menjadi kenyataan.


Dari es kristal kita belajar sesuatu

Es kristal itu dingin.

Tetapi perjuangan di belakangnya sama sekali tidak dingin.

Ada keberanian untuk tetap bekerja setelah kehidupan berubah.

Ada kemauan untuk tetap mencari rezeki meskipun keadaan tidak lagi seperti yang dibayangkan.

Kadang perjuangan itu hanya berupa seseorang yang bangun pagi, mengangkat karung es, mengantar pesanan, menghitung hasil penjualan, lalu pulang dengan harapan besok bisa sedikit lebih baik.

Tidak ada tepuk tangan.

Tetapi tetap sebuah perjuangan.


Hidup belum selesai

Tidak semua bab kehidupan harus menyenangkan.

Tidak semua halaman harus sesuai keinginan.

Yang penting, bukunya jangan ditutup hanya karena satu bab terasa berat.

Masih ada kesempatan untuk bekerja.

Masih ada anak-anak yang membutuhkan kasih sayang.

Masih ada teman yang bisa diajak tertawa.

Dan masih ada rezeki yang mungkin datang dari arah yang tidak pernah kita duga.

Jangan terlalu lama membeku pada masa lalu.

Hidup terus berjalan, dan setiap orang berhak menemukan jalannya sendiri.

Tidak semua yang pecah harus disesali. Kadang, dari kepingan yang tersisa, kita justru belajar membangun kehidupan yang baru.


MandauIwankorosi dan teori es yang mencair

Di antara semua keseriusan itu, tentu saja selalu ada seorang teman yang merasa hidup harus diberi sedikit bumbu humor.

Namanya MandauIwankorosi.

Usianya kurang lebih sebaya dengan kami. Tetapi kalau melihat wajah dan cara bicaranya, orang bisa mengira dia sudah melewati tiga zaman.

Bukan karena usia.

Mungkin karena terlalu banyak pengalaman.

Wajahnya seperti orang yang sudah membaca manual kehidupan, hanya saja sebagian halamannya terkena air hujan.

Suatu ketika ia berkata dengan gaya sok bijaksana:

"Usaha es tetap yang terbaik. Karena bagaimana pun usaha itu berjalan hari itu, usaha es pasti akan... cair."

Kami tertawa.

Kalimatnya memang terdengar seperti lelucon.

Tetapi semakin dipikir, ada benarnya juga.

Es memang pada akhirnya mencair.

Begitu pula banyak hal dalam hidup.

Masalah yang hari ini terasa keras, suatu saat bisa melunak.

Kesedihan yang sekarang terasa berat, suatu hari mungkin hanya menjadi cerita.

Kekecewaan yang hari ini membuat kita diam, kelak bisa menjadi pengalaman yang membuat kita lebih matang.

Yang penting jangan terlalu lama membeku.


Temanku, teruslah berjalan

Untuk temanku, tidak ada nasihat besar yang ingin saya berikan.

Cukup satu:

Teruslah berjalan.

Tidak perlu membuktikan kepada siapa pun bahwa kamu paling benar.

Tidak perlu sibuk menjelaskan semuanya kepada dunia.

Fokus saja pada hal-hal yang masih bisa dilakukan.

Bekerja.

Menjaga anak-anak.

Mencari rezeki.

Dan perlahan membangun kembali kehidupan yang mungkin sekarang bentuknya berbeda dari yang pernah kamu bayangkan.

Mungkin kehidupan yang lebih baik sedang menunggu di sebuah belokan yang belum terlihat.

Karena pada akhirnya, kita semua sedang menjual sesuatu kepada kehidupan.

Ada yang menjual tenaga.

Ada yang menjual waktu.

Ada yang menjual keahlian.

Dan teman kita menjual es kristal.

Dingin di tangan, tetapi hangat di perjuangan.

Dua orang yang pernah berada dalam satu rumah kini menjalankan usaha yang sama di tempat berbeda.

Mungkin memang seperti itulah kehidupan.

Tidak selalu harus bersama untuk bisa tetap berjalan.

Tidak harus saling menjatuhkan untuk bisa melanjutkan hidup.

Cukup masing-masing menemukan jalannya.

Dan semoga jalan itu membawa mereka kepada kehidupan yang lebih tenang.

Sebab seperti kata MandauIwankorosi, kawan sebaya yang wajahnya sudah terlihat tua karena terlalu banyak makan asam garam kehidupan:

"Usaha es tetap yang terbaik. Karena bagaimana pun usaha itu berjalan hari itu, usaha es pasti akan... cair."

Mungkin itulah rahasianya.

Kalau hidup sedang terasa keras, jangan takut.

Jalani saja pelan-pelan.

Karena es saja akhirnya mencair.

Masa kita harus terus membeku? (acs)




Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default