Mengapa Banyak Orang Indonesia Mulai Kehilangan Semangat di Tengah Tekanan Hidup?

Ruang Archan
By -
0
Bukan malas, mungkin kita hanya terlalu lama bertahan di tengah tekanan hidup. (est/acsdigipro)

Ruangarchan - Ada orang yang setiap pagi tetap bangun, mandi, bekerja, membalas pesan, menghadiri rapat, tersenyum kepada orang lain, lalu pulang.

Besok melakukan hal yang sama.

Lusa juga.

Sampai suatu hari ia bertanya kepada dirinya sendiri:

“Saya ini malas, atau memang sudah terlalu lelah?”

Saya kira pertanyaan itu lebih dekat dengan kehidupan banyak orang daripada yang kita bayangkan.

Sebab kita hidup di zaman yang seolah tidak memberi banyak pilihan selain terus bergerak.

Harus produktif.

Harus punya target.

Harus berkembang.

Harus menghasilkan uang.

Harus mengikuti perubahan teknologi.

Harus punya karier.

Harus mengurus keluarga.

Bahkan ketika istirahat pun kadang kita merasa bersalah.

Padahal manusia punya batas.

Dan ada titik ketika seseorang bukan lagi membutuhkan motivasi.

Ia hanya membutuhkan kesempatan untuk bernapas.


Ada Orang yang Tidak Kehilangan Ambisi. Mereka Kehilangan Tenaga.

Saya pernah melihat orang yang biasanya ramai tiba-tiba menjadi pendiam.

Ketika ditanya kenapa, jawabannya sederhana:

“Capek.”

Bukan hanya capek bekerja.

Ada cicilan.

Ada keluarga.

Ada target.

Ada orang tua yang perlu diperhatikan.

Ada anak yang membutuhkan waktu.

Ada hubungan yang sedang tidak baik-baik saja.

Ada masa depan yang belum jelas.

Tidak ada satu masalah besar yang membuatnya tumbang.

Hanya ada banyak masalah kecil yang datang bersamaan dan tidak pernah benar-benar selesai.

Menurut saya, justru itu yang sering membuat manusia kehabisan tenaga.


Kita Terlalu Cepat Menyebutnya Malas

Tidak produktif sedikit:

“Malas.”

Tidak membalas pesan:

“Malas.”

Tidak ikut nongkrong:

“Malas.”

Tidak lagi mengejar promosi:

“Sudah tidak punya ambisi.”

Padahal kita tidak pernah tahu cerita lengkap seseorang.

Dia mungkin sedang kecewa.

Sedang bingung.

Sedang takut gagal lagi.

Sedang menghadapi masalah keluarga.

Atau memang sedang membutuhkan istirahat.

Saya tidak mengatakan semua orang yang kehilangan semangat sedang mengalami masalah kesehatan mental.

Itu kesimpulan yang terlalu jauh.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 memang menunjukkan prevalensi depresi pada kelompok usia 15–24 tahun mencapai 2%, tertinggi dibanding kelompok usia lainnya yang diukur. Tetapi angka tersebut tidak berarti setiap anak muda yang lelah atau kehilangan motivasi mengalami depresi. ("Kementerian Kesehatan RI" (https://www.kemkes.go.id/))

Karena itu, menurut saya, kita perlu lebih berhati-hati.

Lelah tidak selalu berarti depresi. Tetapi lelah juga tidak seharusnya selalu dianggap malas.


Di Media Sosial, Semua Orang Terlihat Baik-Baik Saja

Indonesia sekarang hidup sangat dekat dengan layar.

Pada akhir 2025, jumlah pengguna internet Indonesia diperkirakan sekitar 230 juta orang, dengan media sosial menjadi bagian besar dari kehidupan digital masyarakat. 

Setiap hari kita melihat teman mendapat promosi.

Ada yang menikah.

Ada yang membeli rumah.

Ada yang liburan.

Ada yang membuka bisnis.

Ada yang terlihat menghasilkan banyak uang.

Kemudian tanpa sadar kita melihat kehidupan sendiri dan bertanya:

“Kok saya masih begini-begini saja?”

Padahal kita sedang membandingkan kehidupan nyata dengan potongan kehidupan orang lain yang memang sengaja mereka tampilkan.

Kita tidak melihat cicilannya.

Tidak melihat kecemasannya.

Tidak melihat pertengkarannya.

Tidak melihat malam-malam ketika dia sendiri juga bertanya apakah hidupnya baik-baik saja.

Media sosial memperlihatkan pencapaian.

Bukan seluruh perjuangan.


Orang Dewasa Juga Bisa Kehilangan Arah

Ada fase kehidupan ketika masalah terasa datang bersamaan.

Karier harus dipikirkan.

Rumah ingin dimiliki.

Anak mulai sekolah.

Orang tua semakin membutuhkan perhatian.

Tagihan tetap berjalan.

Kesehatan harus dijaga.

Di saat yang sama, kita masih ingin menikmati hidup.

Ingin makan enak.

Ingin liburan.

Ingin punya waktu untuk diri sendiri.

Tidak ada yang salah dengan semua keinginan itu.

Masalahnya, manusia memiliki waktu, tenaga, dan uang yang terbatas.

Akhirnya seseorang bisa memiliki pekerjaan, keluarga, dan kehidupan yang terlihat baik dari luar, tetapi tetap merasa kosong di dalam.

Bukan karena dia tidak bersyukur.

Mungkin karena terlalu lama hidup dalam mode “harus bertahan.”


Kita Seolah Harus Kuat Setiap Hari

Ada kalimat yang sering kita dengar:

“Kamu kan kuat.”

Awalnya terdengar seperti pujian.

Tetapi bagi seseorang yang sedang lelah, kalimat itu kadang berubah menjadi beban.

Karena kalau saya kuat, berarti saya tidak boleh mengeluh.

Kalau saya kuat, berarti saya harus sanggup.

Kalau saya kuat, berarti saya tidak boleh berhenti.

Padahal kuat bukan berarti tidak pernah lelah.

Menurut saya, orang yang kuat justru bisa mengatakan:

“Saya sedang tidak baik-baik saja.”

Dan tidak merasa malu mengakuinya.


Istirahat Bukan Berarti Menyerah

Kita perlu membedakan dua hal.

Menyerah berarti berhenti karena tidak ingin melanjutkan.

Istirahat berarti berhenti sebentar karena ingin memiliki tenaga untuk melanjutkan.

Keduanya berbeda.

Saya kira banyak orang tidak sedang kehilangan ambisi.

Mereka hanya membutuhkan jeda.

Tidak semua pekerjaan harus selesai hari ini.

Tidak semua pesan harus dibalas sekarang.

Tidak semua keputusan harus dibuat malam ini.

Ada hari ketika seseorang hanya mampu pulang, makan, mandi, lalu tidur.

Dan mungkin itu sudah cukup.

Besok ia bisa mencoba lagi.


Mungkin Kita Perlu Mengubah Pertanyaan

Kita terlalu sering bertanya:

“Hari ini kamu menghasilkan apa?”

Mungkin sesekali kita perlu bertanya:

“Hari ini kamu baik-baik saja?”

Pertanyaan kedua jauh lebih sederhana.

Tetapi mungkin jauh lebih manusiawi.

Sebab seseorang bisa menghasilkan banyak hal sambil perlahan kehilangan dirinya sendiri.

Dan seseorang yang hari ini hanya mampu bertahan, sebenarnya juga sedang melakukan sesuatu yang tidak kecil.


Bukan Malas, Mungkin Kita Hanya Terlalu Lama Bertahan

Saya tidak tahu apakah orang Indonesia benar-benar sedang kehilangan semangat. Rasanya terlalu besar kalau saya mengatakan demikian.

Tetapi saya percaya ada banyak orang yang sedang lelah.

Mereka tetap bekerja.

Tetap mengurus keluarga.

Tetap membayar tagihan.

Tetap tersenyum.

Tetap mengatakan:


“Aku baik-baik saja.”

Padahal mungkin tidak sepenuhnya.

Karena itu, sebelum kita menyebut seseorang malas, tidak ambisius, atau tidak punya masa depan, mungkin ada satu pertanyaan yang layak diajukan:

“Jangan-jangan dia cuma sedang kelelahan?”

Kalau jawabannya iya, mungkin dia tidak membutuhkan ceramah.

Tidak membutuhkan perbandingan dengan orang lain.

Tidak membutuhkan kalimat, “Orang lain lebih susah.”

Mungkin dia hanya membutuhkan seseorang yang berkata:

“Istirahat dulu. Besok kita coba lagi.”

Sebab hidup memang harus terus berjalan.

Tetapi bukan berarti kita harus berlari setiap hari.

Kadang berjalan pelan pun sudah cukup.

Dan mungkin, bertahan sampai hari ini juga merupakan bentuk keberanian yang sering tidak kita hitung. (acs)

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default