Dari Situgede, Gandes Pamantes Mengajarkan Cara Baru Mencintai Budaya

Ruang Archan
By -
0

Tari tradisional Gandes Pamantes: merawat budaya Sunda lewat kreativitas generasi muda Bogor. (Ist/gandespamantes.org)


Ruangarchan - Ada sesuatu yang menarik dari anak-anak yang sedang belajar menari.

Mereka mungkin belum sepenuhnya memahami sejarah gerakan yang sedang dipelajari. Belum tentu pula mereka tahu dari mana sebuah tarian berasal, siapa yang menciptakannya, atau bagaimana perjalanan kesenian itu sampai akhirnya berada di hadapan mereka.

Tetapi mereka datang.

Ada yang masih malu-malu. Ada yang sibuk bercanda sebelum latihan. Ada yang serius memperhatikan gerakan pelatih. Ada pula yang mungkin awalnya hanya ikut karena diajak orang tua.

Dari tempat sederhana di kawasan Situgede, Bogor Barat, aktivitas seperti itu berlangsung di Sanggar Tari Gandes Pamantes.

Bagi sebagian orang, belajar tari mungkin hanya terlihat seperti kegiatan mengisi waktu luang. Namun jika diperhatikan lebih jauh, ada sesuatu yang sedang berlangsung: sebuah tradisi sedang mencari jalan untuk tetap hidup di tengah generasi yang tumbuh bersama internet, media sosial dan budaya populer.

Tradisi Tidak Harus Berhenti di Masa Lalu

Gandes Pamantes memiliki akar yang kuat pada kesenian Sunda, khususnya budaya Bogor. Sanggar ini didirikan dan dipimpin oleh Indi Febriyanti, dengan gagasan bahwa kesenian tradisional tidak cukup hanya dipertahankan, tetapi juga perlu dikembangkan agar tetap menarik bagi generasi berikutnya.

Di sinilah persoalan pelestarian budaya menjadi menarik.

Tradisi sering kali dianggap sebagai sesuatu yang harus dijaga persis seperti bentuk masa lalu. Padahal generasi muda hidup dalam dunia yang terus berubah.

Cara mereka menikmati musik berbeda. Cara mereka mencari informasi berbeda. Bahkan cara mereka mengenal budaya pun semakin banyak datang melalui layar.

Karena itu, mungkin pertanyaannya bukan lagi:

“Bagaimana membuat anak muda kembali menyukai tradisi?”

Melainkan:

“Bagaimana membuat tradisi bisa berbicara dengan bahasa generasi muda?”

Gandes Pamantes tampaknya memilih jalan kedua.

Dari Tradisi, Lahir Kreativitas

Yang menarik, Gandes Pamantes tidak berhenti pada pengajaran tari tradisional.

Selain tari tradisional, sanggar ini juga mengembangkan tari kreasi dan tari garapan. Bahan dasarnya tetap berasal dari kekayaan kesenian Sunda dan Nusantara, tetapi kemudian dikembangkan melalui inspirasi, pengalaman dan inovasi.

Di titik ini, tradisi tidak lagi menjadi benda lama yang hanya disimpan.

Ia menjadi bahan untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Seperti kain lama yang tetap memiliki motif asli, tetapi bisa dijahit menjadi pakaian dengan bentuk berbeda.

Begitulah seharusnya kebudayaan mungkin diperlakukan.

Bukan dibekukan.

Melainkan dirawat, dipahami, lalu diberi ruang untuk tumbuh.

Gandes Pamantes bahkan pernah membawa karya tari hingga berbagai festival, termasuk ajang di Malaysia. Rekam jejak tersebut menunjukkan bahwa kreativitas yang berangkat dari tradisi lokal tidak harus berhenti di lingkungan sendiri.

Ada Anak-anak yang Sedang Belajar Lebih dari Sekadar Gerakan

Di sebuah latihan tari, yang terlihat memang hanya gerakan tubuh.

Tangan bergerak.

Kaki mengikuti irama.

Tubuh belajar menjaga keseimbangan.

Tetapi di balik itu ada proses lain yang sering tidak terlihat.

Anak belajar mendengarkan.

Belajar mengingat.

Belajar disiplin.

Belajar tampil di depan orang lain.

Dan perlahan, belajar mengenali sesuatu yang mungkin selama ini terasa biasa karena terlalu dekat dengan kehidupan mereka sendiri: budaya daerahnya.

Program evaluasi tari yang dilakukan Gandes Pamantes, misalnya, bukan sekadar persoalan siapa yang gerakannya paling bagus. Evaluasi menjadi bagian dari proses melihat perkembangan kemampuan siswa setelah mengikuti latihan. Dalam salah satu evaluasinya, puluhan siswa mengikuti kegiatan yang dibagi ke dalam beberapa kelas dan menampilkan beragam karya tari.

Dari sana kita bisa melihat bahwa pelestarian budaya sebenarnya tidak selalu dimulai dari panggung besar.

Kadang ia dimulai dari seorang anak yang datang latihan setiap minggu.

Bogor dan Pertanyaan tentang Identitas

Bogor bukan sekadar kota yang dikenal karena hujan, Kebun Raya, kuliner atau kepadatan lalu lintasnya.

Bogor juga memiliki lapisan sejarah dan kebudayaan yang panjang.

Di tengah kota yang terus bergerak, identitas lokal mudah berubah menjadi sesuatu yang hanya muncul pada acara tertentu: festival budaya, pertunjukan resmi, pakaian tradisional atau seremoni.

Padahal budaya akan jauh lebih hidup jika hadir dalam keseharian.

Di ruang latihan.

Di sekolah.

Di keluarga.

Di lingkungan sekitar.

Dan tentu saja di kalangan anak muda.

Karena itu, keberadaan sanggar seperti Gandes Pamantes menjadi menarik bukan semata karena aktivitas menarinya.

Yang lebih penting adalah proses mempertemukan tiga hal:

tradisi yang diwariskan, kreativitas yang terus berkembang, dan generasi muda yang akan menentukan apakah semuanya masih memiliki tempat di masa depan.

Generasi Muda Tidak Harus Memilih antara Tradisi dan Modernitas

Ada anggapan bahwa anak muda yang menyukai budaya tradisional berarti harus meninggalkan budaya modern.

Padahal keduanya tidak harus bertentangan.

Seorang anak bisa mendengarkan musik populer hari ini dan tetap mempelajari tari tradisional.

Bisa aktif di media sosial sekaligus belajar bahasa gerak yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Bisa mengikuti tren sekaligus mengenal akar budayanya.

Justru di situlah tantangannya.

Generasi muda tidak perlu dipaksa kembali ke masa lalu.

Mereka hanya perlu diberi kesempatan untuk mengenal masa lalu dengan cara yang terasa relevan bagi mereka.

Dan ketika tradisi mampu memberi ruang bagi kreativitas, budaya tidak lagi terasa sebagai kewajiban.

Ia bisa berubah menjadi pengalaman.

Menjadi kebanggaan.

Bahkan menjadi bagian dari identitas.

Dari Situgede, Sebuah Pesan Kecil tentang Masa Depan Budaya

Pada akhirnya, cerita Gandes Pamantes bukan hanya tentang tari.

Ia adalah cerita tentang bagaimana sesuatu yang diwariskan dari masa lalu berusaha menemukan tempat di masa depan.

Tradisi menjadi fondasi.

Kreativitas menjadi jembatan.

Dan generasi muda menjadi penerus perjalanan.

Mungkin karena itu, menjaga budaya tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang besar dan rumit.

Kadang cukup dengan membuka pintu sebuah sanggar.

Membiarkan musik dimainkan.

Membiarkan anak-anak belajar bergerak.

Lalu membiarkan mereka menemukan sendiri alasan mengapa kebudayaan itu layak dicintai.

Sebab budaya yang benar-benar hidup bukanlah budaya yang hanya dikenang.

Budaya yang hidup adalah budaya yang masih ingin dipelajari, dimainkan, dikembangkan, dan diwariskan oleh generasi berikutnya.

Dan di Situgede, Bogor Barat, proses itu masih berlangsung.

Sedikit demi sedikit.

Gerakan demi gerakan.

Generasi demi generasi. (acs)

Tags:

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default